Hadapi MEA, Perguruan Tinggi Diharapkan Bisa Fleksibel

4 April 2015 Berita Pendidikan


Komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kini semakin dekat. Hal ini juga menjadi perhatian Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman yang mengatakan Perguruan Tinggi (PT) mau tidak mau harus mampu mengubah dirinya agar lebih fleksibel dalam mengantisipasi segala perubahan lingkungan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saat ini pemerintah sudah memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi (PT) untuk melakukan metamorfosis dari PT satker, PT badan layanan umum, PT berbadan hukum," ujarnya di Magelang, Rabu (1/4).

Namun, untuk menjadi PT berbadan hukum masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi, seperti halnya akreditasi institusi dan persentase program studi yang mendapatkan akreditasi A.

"Secara teoritis, bentuk PT berbadan hukum akan lebih bisa memberikan kesempatan kepada PT untuk lebih responsif dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan," tukasnya.

Selain itu, PT juga dituntut untuk mampu menjawab tantangan internasional dengan penerapan sistem informasi manajemen (SIM) yang baik.

" SIM PT harus mampu membantu para pimpinan dalam mengambil keputusan. SIM yang lemah tidak akan mampu membantu PT untuk bersaing secara internasional," paparnya.

Fathur mengatakan implementasi MEA yang dimulai tahun ini akan memungkinan pergerakan bebas barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja di negara anggota. Pergerakan bebas jasa dan tenaga kerja akan berdampak lansung terhadap PT.

Untuk mensiasati hal tersebut dan mengambil segala keuntungan dalam menghadapi MEA, setidaknya ada 5 aspek yang harus diperhatikan oleh beberapa PT, yakni harmonisasi internasional terhadap kompetensi lulusan, melakukan reformasi institusi, penyeimbangan pertumbuhan PT dan kualitas manajemen, peningkatan tangung jawab sosial, dan implementasi penjaminan mutu.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)