Guru Harus Peka pada Kearifan Lokal

20 November 2009 Berita Pendidikan


SEMARANG, KOMPAS.com-Budayawan Prof. Eko Budihardjo mengatakan, seorang guru harus memiliki kepekaan tinggi pada kebudayaan yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang luhur.

"Sebab, kebudayaan adalah salah satu tongkat pembentuk karakter bangsa," katanya usai seminar "Membangun Potensi Guru yang Kuat dan Bermartabat" di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang, Kamis.

Ia mengatakan, proses pendidikan terkadang memang nampak menyengsarakan, namun hasil yang akan diperoleh dalam penanaman pendidikan nanti sebenarnya dapat dirasakan dan dinikmati selama seumur hidup.

"Ibarat akar pohon (pendidikan, red.) yang rasanya pahit, namun justru menghasilkan buah dengan rasa yang sangat manis, dan hal ini dapat dilihat dari proses pendidikan yang terkadang nampak menjengkelkan," katanya.

Menurut dia, strategi yang tepat untuk diterapkan dalam pendidikan Indonesia adalah mengedepankan dan menekankan pada sisi pemberdayaan manusia yang sarat dengan pluralisme dan multikulturalisme.

"Pendidikan harus didekatkan sebisa mungkin dengan nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah dan jangan disama-ratakan," tegasnya.

Ia menjelaskan, pendidikan yang diberikan harus peka terhadap adanya keanekaragaman nilai kearifan lokal yang terkandung, seperti "local wisdom" (kearifan lokal), "local culture" (budaya lokal), dan "local resource" (sumber daya lokal).

"Seorang guru dalam mendidik tidak boleh berlaku setengah-setengah, sebab setiap kekhasan, keunikan, dan potensi anak didik harus digali secara lebih mendalam dengan mengedepankan nilai keteladanan," katanya.

Selain itu, kata dia, seorang guru juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik untuk menjalankan profesi yang mulia itu.

"Dengan sikap ini, maka keunikan, kekhasan, keunggulan, dan kekhasan yang dimiliki oleh setiap anak didik akan dikembangkan dan diberdayakan," kata mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang itu.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti permasalahan Ujian Nasional (UN), sebab banyak upaya untuk melakukan penipuan agar hasil yang dicapai siswa dalam UN baik, misalnya ada guru yang membantu pengerjaan soal.

"Pola pendidikan di Indonesia harus dibentuk dengan berorientasi pada masa depan, sehingga tidak boleh dikotori dengan adanya praktek-praktek penipuan," kata Eko.

Dalam seminar tersebut, hadir pula budayawan, Prof. Damarjati Supadjar dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sebagai pembicara.

Prof. Damarjati menilai, pendidikan di Indonesia saat ini berada di tengah permasalahan serius yang harus segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut.

"Peran pemerintah dan pemimpin untuk mengupayakan penyelesaian masalah yang menghinggapi pendidikan di Indonesia sangat penting dan diharapkan," kata Damarjati.

Editor: jodhi
Sumber: oase.kompas.com