Gedung SD Disegel, Ratusan Murid Telantar

7 Desember 2009 Berita Pendidikan


SUMENEP, KOMPAS.com - Sedikitnya 200 murid SDN Torjek 1, Kecamatan Kangayan, Sumenep, telantar setelah sekolahnya disegel warga yang mengaku sebagai ahli waris pemilik tanah. Akibatnya, selama sebulan kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa tak dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan belajar siswa terpaksa menumpang di rumah warga, musala dan warung penjual makanan di sekitar sekolah. Bahkan siswa kelas III menggunakan bekas kandang sapi, ada juga kelas darurat yang memasang terpal di halaman rumah warga. Kondisi itu membuat siswa tidak betah dan banyak yang tidak masuk sekolah.

Siti Azizah, salah satu guru SDN Torjek 1, kepada sejumlah wartawan menuturkan, aksi penyegelan gedung sekolah telah berlangsung sejak sebulan lalu. Sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda segel itu akan dibuka oleh warga yang mengaku sebagai pemilik tanah, karena tak ada yang melakukan negosiasi antara pemilik tanah dan pihak dinas pendidikan.

Akar persoalan penyegelan gedung sekolah itu saya tidak tahu. Yang jelas sekitar satu bulan ini, kami memang tidak bisa efektif mengajar karena tempat numpang belajar sangat tidak representatif, tuturnya.

Yang sangat menyedihkan, ketika musim hujan seperti saat ini, terpaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan karena atapnya bocor. Apalagi ada kelas yang menempati bekas kandang sapi atapnya sudah rapuh dan kayu penyangganya sudah lapuk sehingga membahayakan murid ketika memaksa belajar di musim hujan. Siswa memilih tidak masuk sekolah karena tempatnya sungguh memprihatinkan, tambahnya.

Siti Azizah berharap kasus penyegelan gedung sekolah itu segera berakhir. Perlu langkah tegas dinas pendidikan untuk menyelesaikan langsung dengan warga yang mengaku sebagai ahli waris pemilik tanah. Jika dibiarkan, tentu saja siswa dan siswi yang rugi karena proses belajarnya terganggu, ujarnya.

Salah seorang wali murid SDN Torjek 1, Khairul Iskandar, kepada Surya menuturkan, gedung sekolah anaknya disegel oleh Agus,45 warga setempat yang mengaku sebagai ahli waris pemilik tanah. Katanya dia adalah ahli waris pemilik tanah yang saat ini dipakai bangunan SDN Torjek 1. Pengakuannya sejak 30 tahun dibangun, keluarganya belum mendapat ganti rugi dari jual beli tanah tersebut, ujarnya.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak guru dan komite sekolah namun tetap tidak menghasilkan kesepakatan. Pemiliknya tetap melarang sekolah ditempati sebelum ada ganti rugi. Malah pemilik lahan menerjunkan keluarganya untuk menjaga sekolah, takut ada yang membuka dan digunakan lagi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H Moh Rais M.Pd mengaku terkejut mendengar kabar penyegelan tersebut. Karena sampai saat ini kepala SDN Torjek 1 ataupun Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kangayan tidak memberitahukan secara resmi kasus penyegelan tersebut.

Saya baru mendengar dari Anda. Karena sampai saat ini tidak ada laporan kasus penutupan itu. Tetapi bagaimanapun akan kita tindak lanjuti dan masih akan memanggil kepada UPTD setempat, jelas Rais.st2

Sumber: regional.kompas.com