Festival Dalang Bocah, Meneropong Regenerasi Pedalangan

21 Desember 2009 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Usainya penyelenggaraan Festival Dalang Bocah 2009 memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan bagi dunia pedalangan di kalangan generasi muda. Sayangnya, perkembangan itu masih di sekitar lingkup keluarga dalang.

Pada festival yang berlangsung sejak 16-19 Desember 2009 dan diikuti 18 peserta perwakilan daerah itu berhasil mendapuk 6 dalang bocah terbaik. Mereka antara lain adalah I Dewa Ketut Wicaksandhita asal Bali, R Samiaji K.S dari Jawa Barat, Bayu Gunawan dari Sumatera Utara, Sih Hono Purwo Laksito dari Jawa Timur, Bimo Sinung Widagdo dari DKI Jakarta, serta Bayu Probo dari D.I. Yogyakarta. Dinobatkan sebagai penyaji terbaik adalah Magistra Yoga Utama dari Jawa Tengah.

"Sebetulnya kita ingin melihat sejauh mana perkembangan pedalangan di kalangan generasi muda di daerah, sekaligus juga untuk melihat minat dan apresiasi anak terhadap dalang yang dimainkan oleh anak-anak seusianya," ujar Bambang Asmoro, Humas Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, usai pemberian penghargaan festival itu di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta, Sabtu (19/12/2009).

Bambang mengatakan, alih generasi pedalangan saat ini sudah sangat matang dan menggembirakan. Semua peserta, kata dia, yang tampil di festival ini mampu memperlihatkan teknis dan kemampuannya dengan baik, mulai dari sulukan (melagukan tambang), keprakan (pengendali musik), sabet (memainkan wayang), serta antawecana (membawakan dialog atau cerita). Padahal, lanjutnya, usia peserta tersebut dibatasi sampai 13 tahun dan rata-rata anak usia SD dan SMP.

"Kebanyakan memang anak dalang atau dalang keturunan, yang karena kebiasaan diajak orang tuanya atau kakeknya ikut ke sebuah pentas sejak masih kecil. Pelan-pelan mereka menyukai dan tertarik, sehingga orangtuanya mau mengajarkan dan menurunkan ilmunya," tutur Bambang.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri sekaligus pengamat dalang Blacius Subono dari ISI Surakarta, mengaku gembira melihat perkembangan dalang di kalangan anak yang luar biasa saat ini. "Mereka sangat potensial dan perlu pembinaan lebih lanjut, baik itu dari kalangan dalang atau bukan dalang. Jangan heran, ada peserta yang berasal dari keluarga Batak yang jauh sekali dari dunia pedalangan ini," ujarnya.

Memang, lanjut dia, tidak dimungkiri bahwa "pelestarian" seni dan budaya wayang dan dalang saat ini masih kuat ditularkan oleh keluarga dalang. Sementara di luar itu, angka partisipasi aktif masih kecil dan perlu digenjot lagi lewat dukungan masyarakat dan pemerintah.

"Seni tradisi itu ada yang tidak komersil dan butuh dukungan demi kemaslahatan umat. Jawa Timur itu bagus sekali dukungan masyarakatnya terhadap seni tradisi, kami yang di Jawa Tengah terus terang iri dengan masyarakat Jawa Timur yang begitu tinggi mengapresiasi seni tradisi," ujar Blacius.

Blacius menambahkan, sudah saatnya perlu kesepahaman antara para dalang, asosiasi dalang dan pemerintah untuk membawa festival dalang bocah ini ke depan dengan lebih baik untuk tujuan pelestarian.

"Kalau benar bisa dijadikan muatan lokal di sekolah-sekolah tentu semakin baik dan mempercepat pelestarian dalang dan wayang di kalangan generasi muda," tambahnya.

LTF

Editor: latief

sumber: kompas.com