E-Book Tidak Efektif

9 September 2009 Berita Pendidikan


Tampaknya, keinginan pemerintah pusat untuk menciptakan pendidikan murah dan efisien melalui pengadaan buku-buku elektronik (e-Book), tak terlalu efektif. Buktinya, sejumlah orang tua siswa masih mengeluh adanya kebijakan sekolah yang menjual buku paket maupun buku Lembar Kerja Siswa (LKS).

Tak hanya di SDN Ciruas 1, Daddi, yang anaknya bersekolah di SDN 6 Serang, mengaku anaknya diminta membeli LKS seharga Rp 56 ribu. Meskipun baginya jumlah itu tidak besar, namun ia tetap mempertanyakan efektifitas pemberlakuan Permendiknas nomor 2 tahun 2008.

Buat apa pemerintah mahal-mahal bayar hak paten penerbit dan dimasukkan e-book kalau ujung-ujungnya rakyat harus tetap beli buku. Apalagi, yang saya tahu, sekolah-sekolah lain juga ada yang memaksakan untuk membeli buku dari toko atau penerbit tertentu, kata Daddi.

Daddi mengaku akhirnya tetap membeli buku-buku yang ditetapkan sekolah karena khawatir dengan perkembangan kejiwaan anaknya. Ketimbang minder karena tidak memiliki buku yang dimiliki teman-temannya, ia pun membeli buku-buku itu.

Menurut Daddi, dirinya justru memikirkan para orang tua yang kebetulan kondisi ekonominya tidak terlalu baik. Bila kondisi ini terjadi, tentu akan timbul ketimpangan sosial dan bisa mengakibatkan anak-anak menjadi minder. Apa memang sudah tak mungkin rakyat menikmati pendidikan murah karena kepentingan bisnis penerbit dan kepentingan ekonomi pengelola sekolah atau pengambil kebijakan pendidikan di daerah? tanya Daddi dengan nada sinis.

Ditemui secara terpisah, Kepala Dindik Kota Serang mengakui belum optimalnya pelaksanaan program e-Book. Menurutnya, baru sebagian kecil sekolah yang telah mengunduh (download) buku gratis tersebut lewat internet. Kita sudah mensosialisasikan ke sekolah. Tapi belum semuanya bisa menerapkan, terang Akhmad Zubaidillah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Serang. Dikatakan, belum diterapkannya program ini karena memang belum ada petunjuk teknis tentang hal tersebut dari Depdiknas. Ia juga mengaku belum mengetahui buku apa saja yang bisa didownload dan situsnya apa.

Selain masalah teknis, kata Zubaidillah, sarana untuk download menjadi kendala pelaksaan e-Book. Pasalnya, belum semua semua sekolah memiliki fasilitas untuk mengunduhnya. Dikatakan, sebagian sekolah di Kecamatan Serang, seperti SMAN 1 Serang, SMAN 2 Serang, SMKN 1 Serang, SMKN 2 Serang, SMPN 1 Serang, SMPN 13 Serang, sudah memiliki prasarana untuk mengunduhnya.

Sementara sekolah-sekolah lainnya, terutama di tingkat SD belum punya. Sebenarnya ini bisa disiasati dengan sharing antara sekolah. Misalnya, satu sekolah download terus dibagi ke sekolah lainnya, ujarnya.
Zubaidillah berharap, ada pihak lain yang bisa memberi kemudahan bagi sekolah untuk download buku lewat internet. Syukur kalau ada yang bisa memfasilitasi penyediaan internet di sekolah, ujarnya. (ENK)

Sumber: Koranbanten.Com