Dukungan Orangtua Agar Anak Peduli Air dan Lingkungan

10 November 2010 Berita Pendidikan


Sebanyak 36 delegasi Konferensi Anak Indonesia, mulai menjalani rangkaian kegiatan sejak 7-12 November 2010. Anak usia 9-14 tahun bercerita tentang pengalaman seputar masalah air, hingga pemanfaatan air sebagai solusi atas krisis air yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Kepekaan, kepedulian, dan kemampuan mengungkapkan gagasan dalam ucapan dan tulisan membekali anak-anak sekolah dasar ini untuk mengirimkan kaya tulisnya ke Majalah Bobo. Dukungan dan dorongan dari orangtua juga menjadi bekal dalam menyemangati anak dalam mengembangkan diri.

Koes Sabandiyah, Deputy General Manager Media Anak Kompas Gramedia, mengatakan, melalui menulis dan mengamati kejadian sehari-hari di lingkungan terdekatnya, anak sedang melatih kepekaan dirinya. Orangtua juga perlu peka dengan apa yang menjadi perhatian anaknya, termasuk rasa ingin tahu anak dari berbagai pengalaman keseharian.

"Tidak mudah memang untuk menulis. Namun dengan bimbingan orangtua serta guru, kemampuan anak bisa dilatih. Umumnya, anak-anak delegasi konferensi memiliki referensi yang banyak di rumahnya. Menonton televisi, memiliki kebiasaan membaca, mengungkapkan apa yang diterimanya melalui tulisan atau perbincangan dengan orangtuanya," jelas Koes kepada Kompas Female, usai pembukaan Konferensi Anak Indonesia 2010, di Ballroom Gedung Kompas Gramedia Jalan Panjang, Jakarta Barat, Senin (8/11/2010).

Pengalaman dan pengamatan jujur dari anak-anak
Adalah Danti Pupita (10), siswi home schooling dari Tangerang, dengan karya tulis yang berjudul Air Bersih, Riwayatmu Kini, yang berhasil mengambil satu kursi delegasi. Danti bersama adiknya, Marsya Putri (7), mendirikan Klub Ciling (Cinta Lingkungan) yang misinya mengajak anak-anak di kawasan tempat tinggalnya di Ciledug, untuk konsisten menjaga kebersihan. Selain Klub Ciling, Danti bersama teman-temannya juga membentuk Polisi Lingkungan (Poling) yang tugasnya mengontrol dan mengawasi kondisi lingkungan di sekitar rumahnya. Sayangnya, ide Poling ini tak berjalan mulus, karena tak ada anak yang bersedia menjadi polisi. Rupanya, sulit bagi anak-anak mengemban tugas untuk memastikan lingkungan tetap terjaga bersih.

Lain lagi dengan Felisitas Prajna Nindita (9) yang tinggal di Jakarta Selatan. Pengalaman gadis cilik ini dengan tukang pompa langganan keluarganya, Bang Endam, menjadi sumber inspirasi karya tulis yang diberinya judul Teknologi Sederhana Penyaringan Air di Rumahku. Anya, begitu panggilan akrabnya, kerapkali mendapati air rumahnya yang kotor. Dari hasil pengamatannya, ia memelajari cara Bang Endam bekerja dengan menggunakan metode penyaringan sederhana. Didapatnya ilmu baru bahwa ijuk dari sabut kelapa atau aren bisa digunakan untuk menyaring air kotor. Merasa tak puas, Anya kemudian meminjam laptop ayahnya dan mencari informasi seputar ijuk melalui mesin pencari. Akhirnya, pengamatan Anya ini membawanya kini dalam Konferensi Anak Indonesia.

Konferensi Anak Indonesia yang berganti nama dari Konferensi Anak Bobo pada tahun sebelumnya, tak berhenti dalam kegiatan enam hari. Menurut Koes, program ini dirancang berkelanjutan hingga pascakonferensi.

"Bobo memberikan pembinaan kepada anak-anak usai mengikuti konferensi. Usai mendapat pembekalan dan pengalaman selama konferensi, anak akan menyosialisasikannya di lingkungan terdekat, rumah atau sekolah," kata Koes. Bobo juga akan memberikan kesempatan kepada anak-anak delegasi KAI untuk mengirimkan tulisan kegiatan sosialisasi pascakonferensi ke redaksi Bobo.

Pentingnya dukungan orangtua
Puluhan anak yang berhasil meraih kursi delegasi KAI, adalah anak-anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan kepekaan atas masalah lingkungan di sekitarnya. Rasanya, setiap anak memiliki karakter ini. Beruntung, 36 anak yang terpilih ini memiliki orangtua yang peka, meski sebagian dari mereka terkendala ekonomi. Dukungan dan dorongan untuk anak yang ingin mengembangkan diri, pada akhirnya membawa orangtua dan anak menuju Jakarta, mengikuti berbagai kegiatan konferensi.

Lina Juarti, ibu dari Rahman Santoso (10), dari Gunungkidul, Yogyakarta, misalnya. Kesulitan mendapat air di Gunungkidul tak disangka bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak lelakinya.

"Anak saya memang senang menulis dan membaca. Melihat ada lomba karya tulis tentang air, anak saya membicarakan keinginannya ikut serta kepada saya. Ia juga bertanya, apakah boleh jika saya, ibunya, menjadi orang yang diceritakan dalam karya tulisnya nanti. Saya akhirnya menyetujuinya," kisah Lina dalam sharing orangtua delegasi KAI 2010 bersama redaksi Majalah Bobo, Senin (8/11/2010).

Rupanya, pengalaman Rahman yang diamati dari aktivitas harian ibunya, kini membawanya ke Jakarta, seperti yang diinginkannya. Lina bercerita, keterbatasan air di Gunungkidul membuatnya harus berjalan mengambil air 25 liter dalam wadah jerigen dengan menggendongnya. Untuk memenuhi kebutuhan satu hari, Lina harus pulang pergi sebanyak 5-7 kali setiap harinya dalam jarak 5-10 km dari rumah menuju sumber air dalam hutan. Dengan kondisi jalan berkapur, Lina memutuskan telanjang kaki karena khawatir terpeleset jika menggunakan alas kaki. Untuk mendapat air, sebenarnya bisa saja warga membeli air bersih seharga Rp 130.000 (5.000 liter) hingga Rp 180.000 (10.000 liter). Namun kondisi ekonomi keluarga Rahman yang pas-pasan tak menyanggupi pembelian air ini.

Rahman mengamati adanya masalah ketersediaan air di tempat tinggalnya ini. Bukan hanya dari peristiwa yang dialami ibunya, namun juga upaya yang dilakukan masyarakat sekitarnya. Masyarakat mulai menanam tanaman kayu jati, kisah Rahman dalam karya tulisnya. Rupanya, hutan jati menjadi sumber air. Semakin banyak orang yang menanam tanaman kayu jati, semakin banyak sumber air. Luasan tanah yang menyerap air juga semakin meningkat. Alhasil, rumah warga di sekitar hutan kini memiliki sumur sendiri sejak hutan jati bertumbuh mulai 2006 lalu.

"Rahman banyak tanya sama bapa-ibunya. Dia tanya bapaknya bagaimana menanam pohon jati. Bapaknya lalu mengajarinya menanam pohon jati. Rahman juga senang membaca, hanya saja bacaan di kampung sangat terbatas. Suatu saat saya ajak Rahman ke Wonosari, lalu kami melihat majalah Bobo dan ia senang dengan sampulnya. Rahman minta dibelikan (dan saya kabulkan), dengan syarat harus dibaca. Ia juga minta ijin ikut lomba, karena ingin ke Jakarta dan ingin memberitahu orang lain bahwa Gunungkidul sudah tidak kekeringan lagi sejak ada hutan jati," tutur Lina kepada Kompas Female.

Kira-kira, apa yang sedang anak Anda amati kini di rumah? Siapa tahu perhatiannya yang tak tertangkap oleh orang dewasa akan memberikan pengalaman berharga. Seperti Rahman dari Gunungkidul yang sedang menikmati kota besar Jakarta (kota yang begitu ingin dikunjunginya) dalam kegiatan Konferensi Anak Indonesia.

Sumber: kompas.com