Duh, Kampus dan Pemkot Masih Berebut Lahan

26 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Wacana perebutan lahan SMAN 8 antara Universitas Negeri Malang (UM) dan Pemkot Malang terus bergulir. Kabar terkini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang M Shofwan bersedia merelokasi SMAN 8 asal UM menyediakan gantinya.
Kami siap pindah, asalkan UM melepas aset mereka yang lain, yakni gedung Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Sawojajar, sebagai gantinya, ujar Shofwan, Senin (24/8).

Kompromi tukar guling ini bisa menjadi jalan tengah antara dua pihak yang berebut lahan. Kedua belah pihak akan sama-sama rugi sekaligus untung. UM bakal kehilangan aset di Sawojajar, tapi aset mereka di Jl Veteran yang strategis itu bisa utuh, kata Shofwan.

Efek yang sama juga akan diterima pemkot. Pemkot mendapat tanah dan gedung baru secara gratis dari universitas, tetapi mereka kehilangan lahan di Jl Veteran, yang sebenarnya sah milik pemkot.

Seperti halnya wali kota, Shofwan selama ini memang bersikukuh bahwa lahan di Jl Veteran tersebut milik pemkot. Dia mengatakan, dokumen penyerahan personel, peralatan, dan dokumentasi (P3D) saat otonomi daerah diberlakukan, jadi kartu truf pemkot dalam sengketa ini.

Salah besar kalau UM menyebut kami hanya berhak atas gedung dan tenaga kerjanya, karena yang diserahterimakan adalah personel, peralatan dan dokumen. Termasuk dokumen-dokumen kepemilikan tanah, tegas Shofwan.

Shofwan tidak mengelak kalau dokumen-dokumen tanah tersebut saat ini masih ada di tangan rektor UM. Menurut dia, pemkot tidak pernah meminta karena sebelumnya tidak pernah kepikiran UM mempersoalkan lahan SMAN 8.

Rektor UM Prof Dr Soeparno tetap memilih cooling down karena tak ingin memanaskan konflik melalui saling klaim kepemilikan. Namun, dalam pertemuan sebelumnya, ia menyebut bukan tanggung jawab UM untuk menyediakan pengganti lahan SMAN 8.

Wali Kota Peni Suparto menyatakan masalah ini bisa diselesaikan baik-baik. Saya minta kepala sekolah, guru dan para orangtua murid SMAN 8 tetap tenang sebab masalah lahan itu ada yang mengurusi sendiri, kata Peni.

Menurut Peni, UM merupakan perguruan tinggi yang mencetak guru. Seharusnya sekolah seperti SMAN 8 dijadikan tempat mahasiswa praktik. (AB/EKN)


LTF

Sumber: Surya Online (surya.co.id)