Duh, 257 Sekolahan Rusak

7 September 2009 Berita Pendidikan


Kabupaten Garut menderita kerusakan paling parah dibandingkan kabupaten lainnya di Jawa Barat akibat dampak gempa yang terjadi Rabu lalu, Bupati Aceng H.M Fikri mengatakan.

Menurut data sementara, gempa berkekuatan 7.3 pada Skala Richter tersebut menewaskan sembilan orang dan mengakibatkan kerugian senilai lebih dari Rp1 triliun, ungkapnya kepada Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof Bambang Sudibyo di Garut, Minggu (6/9).

Dari sekurangnya 28.817 bangunan yang mengalami kerusakan, 2.925 diantaranya hancur, 6.911 rusak berat, 3.817 rusak sedang, serta 15.344 rusak ringan. Gempa tersebut juga menyebabkan 19 korban luka berat dan 120 luka ringan, katanya.

Selain itu 180 masjid rusak berat, 78 rusak sedang, 182 rusak ringan, dan 689 ruang kelas sekolah juga rusak, sehingga kerusakan tersebut menyebabkan kerugian Rp 40,589 miliar.

Sebanyak 257 SD, SMP dan SMA rusak, yang meliputi 154 SD dengan 462 ruang kelas rusak berat, 46 SD dengan 94 ruang rusak sedang serta 43 SD dengan 86 ruang kelas rusak ringan. Disusul dua SMP dengan 14 ruang kelas rusak berat, dua SMP (10 ruang) rusak sedang dan dua SMP (2 ruang) rusak ringan, katanya.

Kemudian dua SMA (6 ruang) rusak berat, dua SMA(2 ruang) rusak sedang serta tiga SMA (15 ruang kelas) rusak ringan, ungkapnya.

Sementara itu, Mendiknas Bambang Sudibyo mengemukakan, akan segera melakukan verifikasi tingkat kerusakan tersebut, termasuk secepatnya mendatangkan ahli konstruksi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk meneliti bangunan yang nampak utuh, namun tak mustahil bisa membahayakan.

Pihaknya akan membantu merehabilitasi hanya bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat, sedangkan kerusakan sedang dan ringan diharapkan bisa ditanggulangi gubernur dan bupati setempat, karena secara keseluruhan kondisi sarana pendidikan tersebut merupakan tanggungjawab bupati, ujar Menteri Sudibyo.

Menteri mengharapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) anak didik tidak terhambat dan dapat terus jalan, meski untuk sementara mereka harus menempati ruangan lain. Belajar merupakan hak azasi anak didik, katanya seusai menyerahkan bantuan peralatan sekolah seperti tas dan buku. (Ant/apr)

Sumber: Wartakota.Co.Id