Digitalisasi Sekolah Hadir dalam Forum Tematik Bakohumas

21 Oktober 2019 Berita Pendidikan


Untuk mendiseminasikan program Digitalisasi Sekolah kepada humas-humas kementerian dan lembaga negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah (Bakohumas) menyelenggarakan Forum Tematik Bakohumas dengan tema Pengembangan Teknologi Pendidikan Melalui Digitalisasi Sekolah, diselenggarakan di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Kepala BKLM, Ade Erlangga Masdiana, saat memberikan pengantar pada acara yang dihadiri lebih dari 80 peserta tersebut menerangkan; untuk mendiseminasikan program Digitalisasi Sekolah, kita lakukan sosialisasi kepada humas-humas di kementerian dan lembaga negara, Kemendikbud bekerja sama dengan Bakohumas menghadirkan program tersebut dalam Forum Tematik.


Ade Erlangga mengatakan, pengembangan Digitalisasi Sekolah dilakukan dalam rangka menyiapkan sekolah dan siswa memasuki era revolusi industri 4.0, serta untuk melaksanakan program Nawa Cita Pemerintahan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, khususnya Nawa Cita ketiga, yaitu "Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan". Kemendikbud melaksanakan pesan Bapak Presiden terkait penyiapkan generasi muda memasuki era teknologi digital atau era 4.0. Pendidikan memang harus berbasis pada teknologi informasi atau teknologi digital. Ini adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua dan Kemendikbud merespon itu semua dengan menyediakan sekitar 1,7 juta komputer tablet dan juga sistemnya yang akan diberikan kepada seluruh sekolah, terutama di daerah 3 T, untuk selanjutnya dipergunakan oleh guru dan murid.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Sesditjen) Kemendikbud, Sutanto, mengungkapkan bahwa program digitalisasi sekolah telah diluncurkan Mendikbud pada 18 September 2019 di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Jadi di Natuna kemarin di dalam peluncuran mengundang 18 sekolah, dan siswanya ada 590. Siswa yang diundang terdiri dari siswa kelas 6 ,7, dan 10, selanjutnya diberikan komputer tablet dan kemudian mendemokan terutama untuk mengakses rumah belajar. Seluruhnya di Natuna itu yang menjadi target kita kurang lebih ada 130 sekolah terdiri dari 81 SD, 26 SMP, 15 SMA , 7 SMK, dan 1 SLB.

Sutanto menambahkan, pengalokasian dana untuk pengembangan Digitalisasi Sekolah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi dan BOS Kinerja. BOS itu ada 3 macam mulai tahun ini, yakni BOS Reguler itu diberikan ke sekolah berdasarkan jumlah siswanya. Kemudian tahun ini ada tambahan yang namanya BOS Afirmasi dan itu diberikan kepada sekolah yang berlokasi di desa tertinggal dan sangat tertinggal di daerah 3T, serta ada juga BOS Kinerja yang diberikan kepada sekolah yang mempunyai prestasi 3 tahun terakhir mengalami kenaikan kinerja.

Sementara itu, Direktur Informasi dan Komunikasi Politik Hukum dan Keamanan, Direktorat Jenderal Informasi Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Gunawan, mengatakan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi memberikan dampak positif untuk pendidikan di Indonesia. Sebetulnya Pendidikan di Indonesia sendiri sudah banyak mengalami inovasi dari tahun ke tahun dalam bentuk sarana prasarana yang digunakan untuk memperlancar jalannya kegiatan belajar mengajar maupun keseluruhan sistem pendidikan. Saat ini banyak bermunculan perusahaan-perusahaan yang membangun platform untuk dunia pendidikan, mulai dari layanan penyedia kursus, penghubung siswa dengan mentor, hingga media sosial pendidikan sudah mulai bermunculan dan semakin berkembang. Pasar ini jelas cukup menjanjikan bagi para pengembang tersebut, karena Indonesia terkenal dengan pengguna internet yang semakin menggila.

Bambang berharap agar digitalisasi pendidikan ini akan bisa menyelesaikan masalah ketidakmerataan pendidikan di Indonesia. Sebab Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar dan luas, maka sangat dibutuhkan inovasi teknologi dalam penyelesaian masalah pendidikan supaya mempermudah dan memperlancar pemerataan pendidikan dan pemecahan permasalahan pendidikan lainnya.

Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Pembelajaran Berbasis Multimedia dan Web, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud, Hasan Chabibie, mengungkapkan adanya disparitas usia pada tenaga pendidik menyebabkan perlunya adaptasi terhadap penggunaan teknologi. Beberapa guru kita juga yang usianya sudah di atas 50 tahun kurang mengenal teknologi. Sementara anak-anak berhadapan dengan digital, dan ketika mereka lahir sudah ada berbagai platform media sosial. Jadi memang ada perbedaan gaya, karakter yang akhirnya membuat mereka harus bertransmigrasi dari non teknologi ke dunia internet atau berbasis teknologi.

Pada prinsipnya, kata Hasan, Rumah Belajar adalah portal yang menyediakan bahan belajar dan fasilitasi komunikasi antara guru, murid, dan masyarakat secara umum. Banyak portal-portal sejenis, kami juga sadar. Dan selaku pemain IT, pengguna IT, penikmat IT, kalau semakin banyak pilihan itu sebetulnya semakin bagus. Dengan semua teknologi informatika yang sudah naik ke atas, Pemerintah tidak boleh tinggal diam, tidak menyediakan sekian literatur yang kemudian bisa diakses oleh publik, guru, siswa, dan sebagainya untuk menunjang proses belajar mengajar mereka di sekolah. Yang jelas portal ini dibuat tentu tidak lari dari peta kurikulum yang sudah dibuat kawan-kawan yang sudah memetakan kurikulum dari jenjang SD, sampai dengan SMK.

Hasan berharap agar portal Rumah Belajar menjadi salah satu pintu gerbang aktivitas bersama untuk semua satuan kerja Kemendikbud. Teman-teman di Pusat Perbukuan, dia punya buku cetak yang bisa dibaca online, itu juga kami masukkan di sini. Kemudian teman-teman pelatihan guru, ada pelatihan PKP (Peningkatan Kompetensi Pembelajaran-red) yang melibatkan secara masif guru-guru seluruh Indonesia, itu juga pintu gerbangnya menggunakan belajar.kemdikbud.go.id. Kemudian ada teman-teman guru yang suka menulis, kita sediakan tools yang namanya pena guru, sehingga mereka bisa mengeluarkan tulisan, karya, gagasan, yang kemudian bisa di_upload_ di portal ini.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari kemdikbud.go.id)