Digitalisasi Koleksi Mendesak Dilakukan

2 Desember 2011 Berita Pendidikan


MEDAN - Usia generasi digital yang mulai memasuki dunia mahasiswa, membuat digitalisasi koleksi perpustakaan mendesak dilakukan, jika universitas tidak ingin ditinggalkan mahasiswanya.

Sayangnya, masih banyak universitas, khususnya universitas swasta yang belum menjadikan perpustakaan sebagai instutusi budaya. Perpustakan dianggap masih unit administrasi belaka.

Demikian dikemukakan Kepala Perpustakaan Universitas Petra Surabaya, Aditya Nugraha, saat Workshop Nasional Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia di Medan, yang bertema Repositori Perpustakaan, Kamis (1/12/2011).

Ia mengatakan, digitalisasi penting, selain memudahkan penyimpanan arsip juga membuat semakin banyak orang yang bisa mengakses perpustakaan. Langkah ini juga dilakukan untuk mengurangi duplikasi karya atau pencontekan karya. " Asal sebuah karya tidak dipatenkan, karya bisa dipublikasikan oleh perpustakaan," kata Aditya.

Menurut Aditya, jika seluruh skripsi mahasiswa didigitalisasi dan bisa terkoneksi antaruniversitas dan bisa diakses siapapun, akan menjadi sebuah kekayaan penelitian yang sangat bagus di Indonesia. Saat ini Universitas Petra memiliki sekitar 18.000 koleksi digital yang bisa diakses melalui internet.

Sementara Universitas Sumatera Utara (USU) memiliki lebih dari 28.000 judul buku, termasuk tesis, disertasi, dan skripsi mahasiswa.

Karya mahasiswa itu bisa diakses dari seluruh dunia, dan membuat perpustakaan USU menduduki peringkat 51 sebagai institusi perpustakaan repositori di dunia.

Kepala Perpustakaan USU, Ahmad Ridwan Siregar, mengatakan, universitas menyesuaikan dengan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan.

Sesuai dengan UU itu, universitas diharuskan mengalokasikan lima persen dana universitas untuk perpustakaan. Selain itu kepala perpustakaan pun setingkat dengan dekan.

Aditya mengatakan praktiknya belum semua universitas, khususnya universitas swasta memberlakukan demikian. Perpustakaan masih menjadi tempat buangan bagi staf yang dinilai berkinerja tidak bagus. Padahal seyogyanya 40 persen staf di perpustakaan adalah benar-benar pustakawan.

Staf Pusat Kajian dan Dokumentasian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen, Manguji Nababan, berharap koleksi di lembaganya bisa digitalisasi. " Ini akan membuat dokumentasi tentang Batak tersimpan dengan baik," kata Manguji.

Sumber: kompas.com