Di Sini Sepi, di Luar Negeri Paling Dicari

20 April 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com Kurangnya jumlah taksonom Indonesia dikarenakan ilmu penamaan atau taksonomi kurang diminati masyarakat. Taksonomi dianggap ilmu yang kurang eksotis.

Demikiam dikatakan Kepala Pusat Penelitian (P2) Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Suharsono saat jumpa pers di P2 Oceanografi LIPI, Ancol, Jakarta, Senin (19/4/2010). Suharsono menyampaikan bahwa jumlah taksonom laut di Indonesia hanya sekitar 20 orang.

"Karena dia hanya berputar-putar dengan nama, di laboratorium, lapangan. Tidak eksotik, kurang peminatnya, bukan cuma di Indonesia, tapi di luar negeri juga," katanya.

Selain itu, kata Suharsono, menjadi seorang taksonom yang ahli membutuhkan waktu yang panjang, ketekunan belajar, serta ketelitian tinggi. Bahkan, sebagian besar taksonom menghabiskan waktunya di laboratorium sehingga kurang bergaul dengan masyarakat.

"Minimal harus belajar lima tahun lagi. Nama itu enggak boleh dobel, untuk mengecek Anda harus mempelajari semua yang ada, dokumennya tebal, sehingga dia harus tahu semua, dan harus orang yang teliti karena berkutat dengan nomor katalog," tuturnya.

Ditambah lagi, lanjut Suharsono, jumlah museum di Indonesia sebagai salah satu tempat para taksonom bekerja juga masih minim. Padahal, menurutnya, di luar negeri taksonom-taksonom Indonesia laris menjadi kurator.

"Taksonom biasanya kan menjadi kurator di museum-museum. Di luar negeri taksonom Indonesia sangat laris," katanya.

Oleh karena itulah, LIPI bekerja sama dengan Conservation Internasional, melelang hak pemberian nama 11 spesies biota laut yang ditemukan di Raja Ampat, Papua Barat, untuk mencari dana dalam membiayai pendidikan calon-calon taksonom Indonesia.

sumber: kompas.com