Depdiknas Kembangkan Program Kewirausahaan bagi Mahasiswa

11 September 2009 Berita Pendidikan


JAKARTA - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas menggagas pengembangan program kewirausahaan bagi mahasiswa guna melahirkan lebih banyak pencipta kerja (job creator) ketimbang pencari kerja (job seeker). Hal itu dilakukan guna mengatasi masalah pengangguran di kalangan sarjana yang jumlahnya sudah mencapai lebih dari 1 juta orang per tahun.

"Ini memang bukan pekerjaan ringan, tetapi harus kita lakukan. Kalau tidak, akan lebih banyak lagi sarjana kita yang menganggur," kata Dirjen Dikti Fasli Jalal dalam percakapan dengan wartawan, di Jakarta, Kamis (10/9).

Fasli menjelaskan, selain program kewirausahaan bagi mahasiswa, pihaknya juga mengembangkan program kreativitas mahasiswa (PKM) dan cooperative education (co-op) yang mendorong mahasiswa dalam melahirkan ide-ide brilian bagi kebangkitan industri kreatif di dalam negeri. Pengembangan industri kreatif akan makin optimal jika didukung penuh oleh kalangan perguruan tinggi.

"Ketiga program ini nantinya diharapkan bisa menjadi embrio bisnis bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Jadi, ketika mereka lulus, sudah memiliki pijakan untuk melakukan bisnis yang lebih luas lagi," ujar Fasli.

Khusus untuk dua program, yakni PKM dan co-op, ditambahkan Fasli, telah diujicobakan di sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini. Hasilnya cukup menggembirakan. Ada sejumlah karya inovasi mahasiswa yang layak ditindaklanjuti secara komersial.

"Hasil karya inovasi mahasiswa ini nantinya akan menjadi embrio bisnis berbasis ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan seni. Bidang seni juga penting, terutama dengan makin maraknya perkembangan dunia pertelevisian di dalam negeri," kata Fasli.

Fasli mengakui, selama ini perguruan tinggi lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa bisa cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan.

Akibatnya, mereka menjadi kurang kreatif saat mengetahui bahwa lapangan pekerjaan terbatas atau kemampuan yang dimiliki tidak sesuai dengan pekerjaan yang tersedia.

"Akhirnya, lulusan perguruan tinggi lebih banyak menunggu lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Padahal, tidak semua bidang pekerjaan itu tersedia, sehingga muncul para penganggur terdidik itu," ucap Fasli menegaskan.Ia mengutip hasil survei sosial ekonomi nasional (susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2006 yang menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penambahan sekitar 4 juta orang. Angka pengangguran berada pada kisaran 10,8 persen-11 persen dari tenaga kerja yang masuk kategori sebagai penganggur terbuka. (Tri Wahyuni)

Sumber: suarakarya-online.com