Dari Desa Menerjang Hujan Banjir, Menyemai Ilmu...

8 Desember 2009 Berita Pendidikan


"Maaf, Pak, saya pakai sandal," kata lelaki itu menyapa dan seperti merasa bersalah. "Semalam hujan lebat, kampung saya banjir. Menuju ke sini jalan licin, masih jalan tanah," lanjutnya.
Hari Minggu kemarin (6/12), lelaki yang dikira mahasiswa Universitas Terbuka itu ternyata seorang pengajar, tutor. Namanya Sudirwan. Kepada mahasiswa semester satu Universitas Terbuka Unit Pembejalaran Jarak Jauh Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, ia mengajarkan Bahasa Indonesia.

Tinggal di Desa Harum Sari, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Sudirwan sehari-harinya adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri Blang Kandis, Kecamatan Bandar Pusaka. Setiap hari Minggu, waktunya dihabiskan untuk mengajar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia.

Demi pengabdian dan menyemai ilmu, hujan, banjir, dan jalan licin bukan halangan baginya. Ia rela menempuh perjalanan lebih kurang 100 km pergi-pulang dengan sepeda motor.

"Saya tak mau merugikan mahasiswa, karena itu apa pun situasi dan kondisinya, saya tetap datang mengajar," ujar Sudarwan, di sela-sela jam rehat makan siang.

Sudarwan menjadi tutor sejak 2003. Ia resmi menjadi tutor itu setelah mengikuti serangkain tes dengan persyaratan yang ketat dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pihak Universitas Terbuka.

Tidak hanya pengajarnya, karena sebagian besar mahasiswa juga datang dari berbagai pelosok desa, menempuh perjalanan jauh, puluhan kilometer, bahkan ada yang melebihi 100 km untuk bisa mengikuti tutorial bersama mahasiswa lainnya. Hujan, banjir, dan jalan tanah yang licin adalah situasi yang mau tak mau harus mereka akrabi.

Aceh Tamiang adalah daerah yang rawan banjir di Provinsi Aceh. Hari itu, ada tiga mata kuliah yang harus diikuti dengan serius, supaya hasilnya tidak mengecewakan.

"Hadir mengikuti tutorial, merupakan suatu keharusan dan kesempatan yang ditunggu-tunggu. Lima hari dalam seminggu belajar mandiri dan Sabtu-Minggu belajar bersama dengan tutor," kata seorang mahasiswa.

Dari 10 lokal yang sempat Kompas pantau sepanjang Minggu itu, mahasiswa yang umumnya adalah guru-guru lulusan program Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) itu tampak serius mengikuti tutorial.

Sesuai Kebutuhan

Kesempatan mengikuti pendidikan program strata satu atau Diploma 4 (D4) di Universitas Terbuka adalah kesempatan untuk merubah nasib dan menjadikan anak didik lebih pintar.

"Jadi guru SD di era global sekarang banyak tantangan. Ilmu pengetahuan terus berkembang, sehingga guru walau tinggal dan mengajar di daerah tertinggal, harus terus menerus belajar, menuntut ilmu, kata mahasiswa Universitas Terbuka," kata Rosdiana.

"Karena jika guru berpendidikan tinggi, minimal sarjana, juga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan," tambahnya.

Untuk tetap menjaga mutu pembelajaran dan mutu lulusan, Universitas Terbuka yang kini berusia 25 tahun, menjadwalkan rutin memantau pengajaran dan pembelajaran tutorial di berbagai daerah di Tanah Air. Dalam satu semester, mahasiswa wajib mengikuti delapan kali tutorial, dan itu setara dengan 14 kali pertemuan tatap muka.

"Jika kurang dari itu, akan berpengaruh terhadap nilai suatu matakuliah, kata Enceng," Ketua Jurusan Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Univeritas Terbuka, yang hari itu memantau langsung kegiatan tutorial di Kabupaten Aceh Tamiang.

Menurut Enceng, Universitas Terbuka dengan program belajar jarak jauh, sangat menuntut kemandirian mahasiswa, prakarsa dan inisiatif sendiri. Mandiri dengan belajar sendiri, berkelompok, dan atau mengikuti tutorial. Untuk bisa mandiri dituntut inisiatif dan motivasi belajar yang kuat.

"Dari pengamatan di sejumlah daerah, hampir tidak ada keluhan mahasiswa. Karena dalam sistem belajar jarak jauh dan terbuka tersebut, mahasiswa diberikan modul, audio/video/CD, dan atau bisa belajar secara online, serta belajar melalui radio dan televisi," jelasnya.

Enceng menjelaskan, Universitas Terbuka yang sudah meraih ISO 9001: 2000 untuk bilang layanan bahan ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global tahun 2006, dan Sertifikat kualitas dan akreditasi internasional dari International Counsil for Open and Distance Ed ucation (ICDE) Standard Agency (ISA) tahun 2005, mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional disesuaikan dengan kebutuhan nyata pembangunan dan belum banyak dikembangkan perguruan tinggi lain.

"Sayangnya, ada satu-dua program yang dibuka, belum mendapat perhatian luas masyarakat (calon mahasiswa). Padahal, lulusan program tersebut sangat dibutuhkan semua departemen, seperti lulusan Program Studi Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik," ujarnya.

Sekarang, lanjut Enceng, jumlah mahasiswa program studi perpustakaan mencapai sekitar 300 orang. Jumlah tersebut hanya ada di Solo dan Semarang.

"Progam studi perpustakaan baru mulai dibuka tahun 2008, karena izin dari Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional yang sudah diupayakan sejak 2002, baru keluar izin akhir 2007," ungkap Enceng.

Enceng mengatakan, perguruan tinggi yang membuka program perpustakaan bisa dihitung jari tangan. Perguruan tinggi tersebut antara lain Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Pandjajaran, Universitas Negeri Padang, Universitas Gadjah Mada, serta Universitas Terbuka.

Hanya, lanjut Enceng, yang membedakan antara Universitas Terbuka dan universitas lain untuk program perpustakaan ini adalah lebih banyak praktik ketimbang teori. Perguruan tinggi lain pun sebaliknya, lebih banyak teori dan hanya sedikit praktik.

Dia menambahkan, program studi perpustakaan sejalan dengan kearsipan, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan daerah dan departemen. "Sekarang susah mencari lulusan perpustakaan, karena mereka umumnya cepat diterima bekerja. Termasuk mencari lulusan untuk jadi dosen," ujarnya.

"Belum lama ini, Universitas Terbuka butuh tenaga pengajar untuk program studi perpustakaan, minimal lulusan strata dua (S2), tapi tak satu pun pendaftar," katanya.

Enceng menuturkan, walaupun jumlah mahasiswa program studi perpustakaan hanya sekitar 300 orang, perkuliahan tetap berjalan dengan baik, walaupun sebenarnya kurang ekonomis. Untuk ekonomis, sekurang-kurangnya mahasiswa mencapai 3.000 orang.

Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com