Dampingi Anak Pilih Jurusan Agar Tak Salah Prodi

17 Januari 2014 Berita Pendidikan


Permasalahan "blacklist" panitia SNMPTN terhadap sekolah-sekolah yang muridnya tidak melakukan pendaftaran meskipun telah dinyatakan lulus SNMTPN pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya merupakan salah satu pertanyaannya yang cukup sering ditanyakan oleh pihak sekolah, murid, dan orangtua murid. Demikian pula ketika tim Humas Unpad memenuhi undangan sosialisasi SNMPTN dan seleksi masuk Unpad di SMAN 5 Bandung. Namun, tidak semua sekolah memahami dengan jelas alasan blacklist tersebut.

Maka tidak mengherankan ketika permasalahan "blacklist" panitia SNMPTN terhadap sekolah -yang muridnya tidak melakukan pendaftaran meskipun telah dinyatakan lulus SNMTPN pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya merupakan salah satu pertanyaan yang cukup sering ditanyakan oleh pihak sekolah, murid, dan orangtua murid.

Seperti yang mengemuka saat tim Humas Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung melakukan sosialisasi SNMPTN dan seleksi masuk Unpad di SMAN 5 Bandung, belum lama ini.

"Kami tidak menyebutnya sebagai blacklist karena warna hitam ataupun putih tidak bermakna negatif. Kami menyebut sekolah-sekolah yang seperti itu masuk ke dalam daftar negatif," ujar Kepala UPT Humas Unpad, Bambang Hermanto, seperti disitat dari situs Unpad, Rabu (15/1/2014).

Tindakan blacklist, kata Bambang, tidak dengan memblokir seluruh murid dari sekolah tersebut. Namun setiap perguruan tinggi negeri yang dituju akan mempertimbangkan data tahun sebelumnya.

"Berapa yang dinyatakan diterima, berapa persen yang kemudian benar-benar mendaftar, termasuk juga bagaimana catatan akademiknya ketika sudah kuliah," urainya.

Untuk itu, lanjut Bambang, butuh kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua dengan calon peserta dalam memilih program studi (prodi) pada seleksi masuk PTN itu. Arahkan para murid untuk memilih program studi yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, jangan karena pengaruh teman atau citra bahwa program studi tertentu lebih favorit dibanding yang lain.

"Kami juga tidak bisa melarang mereka yang tidak mau melakukan pendaftaran meski telah dinyatakan diterima karena hal ini merupakan hak asasi. Apalagi mungkin mereka punya alternatif lain. Namun bila pada data tampak bahwa pemilih dari suatu sekolah banyak yang tidak melakukan pendaftaran ulang saat telah diterima, tentu ini juga akan menjadi pertimbangan bagi PTN," tegas Bambang.

Sosialisasi permasalahan blaclist diikuti oleh kurang lebih 200 orangtua murid kelas XII dan guru-guru SMAN 5 Bandung. Pertanyaan yang dilontarkan cukup beragam, seperti pilihan lintas jurusan, kriteria penilaian, seleksi mandiri Unpad, dll. Menurut Kepala SMAN 5 Bandung, Drs. H. Jumdiat Marzuki, MM., berbagai masalah yang timbul terjadi karena kurangnya informasi dan komunikasi.

Pada kesempatan itu, Bambang juga mengingatkan para orangtua untuk tidak tergiur dengan tawaran yang mengaku bisa membantu meloloskan seseorang menjadi mahasiswa baru Unpad. Jika menerima tawaran semacam itu, orangtua dipersilakan melapor ke pihak Unpad atau kepolisian karena hal tersebut merupakan tindak penipuan.

"Unpad tidak menoleransi kasus penipuan ini. Jika ada oknum dari Unpad yang melakukannya, akan berhadapan dengan hukum. Sudah ada bukti kasusnya,"

Oleh: Iman S
(Dikutip dari berbagai sumber)