"Connecting Classrooms", Bukan Kelas Biasa...

24 November 2009 Berita Pendidikan


Menggunakan komputer dan internet saja tidak cukup bagi guru dan siswa untuk menghadapi arus kehidupan yang semakin cepat dan kompleks saat ini, apalagi belajar pun hanya dilakukan di kelas.
Di abad ke-21 ini, guru dan siswa membutuhkan alat dan metode belajar yang jauh lebih kreatif. Demikian hal itu terungkap dalam lokakarya mini program Connecting Classrooms yang digelar oleh British Council di Jakarta, Senin (23/11).

Programme Director British Council Indonesia Hugh Moffatt mengatakan, Connecting Classrooms merupakan situs jejaring bagi guru dan siswa untuk berbagi inovasi dan proyek belajar dengan mitra belajarnya di negara lain dengan menggunakan internet. Program ini diluncurkan oleh British Council pada 2007 dan diharapkan bisa membuat proses belajar bagi guru dan siswa menjadi jauh lebih kreatif.

"Karena memang, Pemerintah Inggris sendiri menuntut sekolah-sekolah di Inggris untuk membuat kemitraan sejajar agar bisa saling belajar antara guru dan murid dari berbagai negara," ujar Moffatt.

Karena itulah, kata Moffatt, saat ini sekolah-sekolah di Inggris pun rata-rata memiliki hubungan dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Melalui jejaring Connecting Clasrooms Inggris dan Asia itu mereka bisa berbagi pengalaman.

"Karena di situ mereka bisa secara terbuka untuk saling berbagi informasi dan akses kurikulum yang berbeda satu sama lain," ucap Moffatt.

Saat ini, Moffatt menuturkan, tercatat sudah lebih dari 25.000 siswa dan 3.000 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Inggris dan Asia yang tergabung sebagai mitra belajar Indonesia dalam Connecting Classrooms tersebut. Dari 600 SMP yang tergabung di jejaring itu, 60 SMP di antaranya berasal dari 6 provinsi di Indonesia.

"Level kebijakan kami memang diarahkan pada Depdiknas dan Dinas Pendidikan Daerah (Disdik), karena kerjasama ini difokuskan pada rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI," ujar Moffatt.

Dia menambahkan, program Connecting Classrooms ini hanya diikuti oleh RSBI di 6 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan. Setiap provinsi tersebut diwakili oleh sepuluh sekolah. Total saat ini sudah terdapat hampir 2.000 siswa dan 500 guru Indonesia yang terlibat program ini.

Rencananya, tambah Moffat, pada 25-29 November 2009 mendatang British Council Indonesia akan mengirimkan utusannya untuk mengikuti Connecting Classrooms International Expo 2009 yang berlangsung di Taiwan. Wakil dari Indonesia tersebut terdiri dari 10 siswa, 6 orang guru, 1 kepala SMP, serta 4 staf senior dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

LTF/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com