Berita Pendidikan
4 Desember 2009

Cari Sekolah Papan Atas? di Mal Juga Ada

Bak kacang goreng, sekolah-sekolah mahal saat ini mulai banyak dicari orang Jakarta dan sekitarnya. Meski terhitung mahal, sekolah-sekolah itu tetap laris dan diminati oleh golongan orang berkantong tebal.
Tengok saja sekolah Santa Laurensia di Alam Sutera, Serpong, Tangerang, misalnya. Mahalnya biaya pendidikan sudah terlihat sejak pendaftaran hingga uang pangkal dan uang sekolah per bulan. Sekolah yang mendidik anak sejak usia satu tahun (pre toddler) hingga jenjang SMP dan SMA itu, mematok uang sekolah mulai Rp 6.620.000 hingga Rp 23.740.000 per tahun.

Begitu masuk ke jenjang SMP dan SMA, orangtua harus menyiapkan dana sebesar Rp 23 juta sebagai uang pangkalnya. Sementara SMAN kelas internasional di Jakarta uang pangkalnya belasan juta rupiah.

Jika ingin masuk ke Sekolah Springfield di daerah Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, siap-siaplah menyediakan uang pangkal mulai dari Rp 6.500.000 (untuk playgroup) hingga Rp 35 juta (untuk SMP). Di Sekolah Terpadu Pahoa, Gading Serpong, Tangerang, uang pangkal bagi setiap siswa baru SMP dan SMA dipukul rata sebesar Rp 10.125.000. Sedangkan di Sekolah Ipeka Internasional yang ada di Meruya, Jakarta Barat, uang pangkalnya mencapai Rp 45 juta dengan uang sekolah Rp 4.500.000 per bulan.

Gambaran semakin mahalnya biaya pendidikan, terutama sekolah swasta di Jakarta belakangan ini terlihat nyata, saat beberapa sekolah itu menggelar pameran pendidikan bertajuk Trend Education 2010 di Center Atrium Mal Taman Anggrek, Tanjungduren, Jakarta Barat, Selasa (24/11) hingga Minggu (29/11). Pameran diikuti oleh puluhan sekolah swasta di Jakarta dan Tangerang. Ratusan orangtua tampak memenuhi tempat pameran, terutama di akhir pekan menjelang pameran itu berakhir.

Sebagai konsumen jasa pendidikan, para orangtua memanfaatkan waktu pameran tadi untuk bertanya dan mencari tahu sekolah yang pantas untuk anaknya. Banyak pula orangtua yang langsung mendaftarkan anaknya sekolah. Salah satu alasan orangtua mendaftarkan anaknya saat pameran berlangsung karena diberlakukannya sistem potongan harga (diskon), mirip seperti membeli pakaian di ajang sale di sejumlah mal.

Para penyelenggara pendidikan itu akan memberikan potongan pembayaran uang pangkal sekolah yang besarannya beragam jika mendaftar lebih awal. Program ini ternyata mampu menarik minat sejumlah orangtua yang memang tengah berburu sekolah mahal.

Bagai sebuah pasar bisnis yang menggiurkan, di dalam pameran pendidikan yang digelar di sebuah mal mewah itu ada pihak yang menjual, ada pula yang membeli.

Demikian pameran pendidikan itu berlangsung. Si penjual jasa senang karena tempat pamerannya juga dipilih di mal megah yang setiap harinya banyak dikunjungi orang berkantong tebal. Orangtua yang banyak duit itulah yang menjadi target market bagi mereka.

Dari pameran tersebut jelas terlihat bahwa dagangan pendidikan belakangan ini memang laris-manis. Asalkan ada uang, orang tua tidak perlu pusing mencarikan anaknya sekolah. Berapa besar dana yang harus dikeluarkan, mereka tak ambil pusing. Asalkan fasilitas di dalamnya bagus untuk perkembangan anak di masa datang.

Meski begitu, tawar-menawar yang sering terjadi antarpedagang dan pembeli di pasar tradisional pun juga terjadi di sini. Misalnya saja, jika uang pangkalnya terlalu besar, si pembeli akan berusaha mendapatkan diskon. Para penyelenggara pendidikan menyatakan, biaya sekolah anak saat ini yang mencapai puluhan juta rupiah itu harus dikeluarkan orangtua sesuai dengan mutu dan fasilitas yang diberikan oleh masing-masing sekolah.

Selain fasilitas yang serba wah, kurikulum pendidikan yang dipakai dalam mengajar pun juga berkelas internasional. Ada yang tetap menggunakan kurikulum nasional seperti sekolah kebanyakan, tetapi ada pula sekolah yang memakai kurikulum internasional, seperti Cambrigde. Kalaupun yang digunakan di sekolah itu sesuai dengan standar dari Depdiknas, tetapi kurikulumnya nasional plus, kurikulum nasional yang berbeda dari kebanyakan sekolah di negeri ini.

Kurikulum nasional plus itu ada tambahan bahasa Inggris dengan ekspatriat teacher, serta science dan matematika sebagai tambahan pelajarannya. Jadi kalau siswa ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri, tidak ada masalah, karena mereka sudah siap, kata Theresia Eli, guru yang juga panitia penerimaan siswa baru (PSB) Sekolah Laurensia. (Irwan Kintoko)

Editor: latief

Sumber: Warta Kota (kompas.com)

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris