Cacat, Hiperaktif, Autis Perlu Perhatian

12 Mei 2011 Berita Pendidikan


LAMONGAN - Siswa penyandang cacat, hiperaktif, autis, memiliki hambatan belajar perlu perhatian khusus dalam melaksanakan ujian nasional. Di Tuban, lima dari 29 siswa SDN 2 Sendangrejo ya ng menjadi peserta ujian nasional mendapatkan perhatian khusus karena mengalami autis, hiperaktif dan slow learn. Mereka mengerjakan di ruangan berbeda dengan siswa yang normal, meskipun materi dan waktu ujian bersamaan.

Wakil Kepala SDN 2 Sendangrejo Tuban, Mudjajin menjelaskan, lima siswa itu ada yang mengalami autis, hiperaktif dan slow learn. Mereka perlu perhatian khusus saat ujian dan tidak diawasi pengawas umum, tetapi mendapatkan pengawas pendamping. "Akan sulit untuk memahami anak-anak itu kalau bukan guru yang ahlinya," katanya.

Mudjajin mengungkapkan selama ini kurang ada perhatian yang serius dari Dinas Pendidikan Tuban untuk mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan itu. "Mereka termasuk anak bangsa yang berhak untuk mendapatkan pendidikan," tuturnya.

Salah seorang siswa, Fransiska, meski memiliki keterbatasan tidak kesulitan mengerjakan soal ujian tersebut dan mengaku bisa menjawab semua soal. Ia berharap setelah lulus bisa masuk ke SMP favorit.

Sementara siswa Sekolah Luar Biasa Maarif di Kelurahan Banjar Mendalan Kabupaten Lamongan, kesulitan mengarsir pilihan lingkaran untuk jawaban soal ujian nasional di lembar jawaban computer (LJK).

Pengawas memberikan pengarahan, menjelaskan dan membantu cara mengarsir LJK khusus penyandang tuna daksa. Bia sanya arsiran kurang penuh atau melebihi lingkaran yang harus diarsir.

Para peserta penyandang tuna daksa itu memerlukan pengawasan dan bimbingan lebih, terutama yang mengalami gangguan gerak. Mereka memiliki keterbatasan kemampuan di tangannya.

"Kasihan kalau sampai LJK-nya tidak terbaca komputer hanya karena keterbatasan mereka," ujar seorang pengawas Mudhofar.

Bagi siswa tuna rungu atau mengalami gangguan pendengaran, pengawas harus menerangkan aturan pengisian LJK. Penjelasan tersebut tentu saja harus diberikan dalam bahasa isyarat.

Pengisian arsirannya, siswa yang tuna rungu relatif tidak bermasalah. "Soal ujian maupun LJK sama persis dengan untuk mereka yang normal. Khusus siswa tuna netra harus menggunakan LJK khusus," kata Mudhofar.

Sementara itu di Gresik, dari 19.035 peserta ujian nasional ada 11 siswa yang tidak mengikuti ujian tanpa keterangan sedangkan enam siswa sakit. Setelah ditelusuri ke alamat rumah siswa, mereka sudah pindah.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Abdul Munif menyatakan LJK tidak dikirimkan ke Jawa Timur, karena dinas pendidikan setempat diberi wewenang untuk melakukan scanner (pimindaian) LJK. "Kami siapkan dua petugas scanner yang sudah dikarantina, dan proses scanner diawasi polisi dan petugas dinas pendidikan," tuturnya.

Sumber: kompas.com