Berita Pendidikan
30 September 2010

Bursa Kerja Lulusan SMK Minim

MEDAN - Meskipun pemerintah terus menggeber program agar SMK menjadi pilihan, namun nyatanya lulusan SMA yang lebih fleksibel daripada lulusan SMK yang bersifat spesialis.

Ketua Dewan Pendidikan Medan Mutsyuhito Solin mengatakan, SMA dinilai lebih fleksibel dibandingkan SMK. Saat SMA, anak diberikan basic knowledge, sementara SMK diberikan pengetahuan praktis yang khusus, misalnya listrik. Jadi, dia hanya bisa listrik saja nantinya, terangnya kepada wartawan, Selasa (28/9).

Solin juga mengatakan, bursa kerja saat ini masih minim dalam menyediakan pekerjaan bagi para lulusan SMK sehingga tiga tahun belajar di SMK menjadi tidak terpakai. Sementara itu, lulusan SMA lebih luwes dalam melakukan penyesuaian sehingga pendidikan SMA selama tiga tahun tak sia-sia, sambungnya.

Di luar negeri, sambung Solin, bursa kerja lebih memilih tenaga kerja yang memiliki keandalan dalam berpikir logis dan mengutamakan pelatihan tanpa melihat latar belakang pendidikannya. Oleh karenanya, untuk mengoptimalkan keberadaan SMK, harus ada jembatan antara pasar kerja dan pendidikan menengah untuk menutupi kekosongan ini, jelasnya.

Hal itu diperkuat pemikiran Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, Qisha Quarina. Ia mengatakan, latar belakang orangtua juga memengaruhi pilihan sekolah anaknya.

Semakin tinggi pendidikan orangtua, maka mereka akan semakin future oriented dan mementingkan pendidikan yang lebih baik, katanya.

Untuk investasi jangka panjang tersebut, lanjutnya, para orangtua yang future oriented lebih memilih sekolah menengah atas (SMA) sebagai satu pintu menuju jenjang pendidikan berikutnya, yakni perguruan tinggi. Status pekerjaan orangtua juga berpengaruh pada pilihan SMA atau SMK. Status pekerjaan bapak yang bekerja di sektor nonprimer, seperti manufaktur dan pelayanan memiliki penghasilan rendah, membuat tak punya investasi untuk menyekolahkan anak lebih tinggi, terangnya.

Oleh karena itu, sambung Qisha, orangtua yang bekerja di sektor tersebut lebih memilih anaknya masuk ke SMK yang bisa lebih cepat balik modal karena SMK menyiapkan lulusan yang siap bekerja. Bapak yang kerja di sektor non-primer ini akan berpikiran present oriented dengan return lebih cepat, ujarnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Qisha menemukan, lulusan SMA memang memiliki tingkat balik modal lebih tinggi daripada SMK.

Laki-laki dengan rata-rata pengalaman 6-19 tahun, lebih tinggi ketika bekerja sebagai karyawan dibandingkan lainnya. Tingkat return 11,7 persen di sektor tersier dan 9,56 persen di sektor primer atau skunder. Sementara itu, lulusan SMK, dengan rata-rata 23 tahun pengalaman kerja, hanya bisa balik modal sampai 3,34 persen. Dari segi kesempatan bekerja, lulusan perguruan tinggi juga lebih memiliki peluang daripada lulusan SMK, paparnya. (saz)

Sumber: hariansumutpos.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris