Buku Terbaik di Seluruh Dunia Dipamerkan di Yogyakarta

23 November 2009 Berita Pendidikan


YOGYAKARTA, KOMPAS.com -Buku pemenang penghargaan Buku Terbaik dari Seluruh Dunia dipamerkan di Yogyakarta untuk pertamakalinya dalam Pameran Desain Buku Belanda Terbaik. Pameran tersebut juga menampilkan 43 buku yang pernah dinobatkan sebagai buku tercantik dari Belanda.

Sebanyak 44 buku tersebut mendapat penghargaan atas keterpaduan isi dan pengemasan. Selain desain sampul yang menarik dan menunjukkan karakter isi buku, bahan kertas, warna teks, serta bentuk buku juga menjadikannya sebagai satu kesatuan yang mengundang untuk dibaca.

"Budaya pengemasan dan desain buku di Belanda telah berlangsung selama puluhan tahun. Dengan cara ini diharapkan buku tidak akan pernah tertinggal dari internet," tutur Duta Besar Belanda untuk Indonesia Nikolaos Van Dam dalam pembukaan Pameran Buku Belanda Terbaik di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Kamis (19/11) malam.

Pameran yang terselenggara atas kerja sama UKDW, Lembaga Kebudayaan Indonesia Belanda Karta Pustaka Yogyakarta, dan Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta itu berlangsung 20 November-2 Desember . Sebelum di Yogyakarta, pameran berlangsung di Jakarta dan Semarang. Selain pameran, tersedia pula pelatihan desain sampul buku yang dipandu oleh pemenang beberapa kali penghargaan internasional untuk Buku Terbaik dari Seluruh Dunia Josh Grootens.

Dalam acara ini, Josh menampilkan buku karyanya yang memenangkan medali emas pada penghargaan buku paling bergengsi di dunia di Leipzig Jerman tahun 2008. Buku berjudul "Vinex Atlas" itu berisi peta-peta berbagai kota di dunia.

Dalam buku tersebut, Josh menerjemahkan berbagai data dan statistik sebuah kota dalam simbol dan warna yang memudahkan pembaca. Orang seringkali tidak mengerti dampak nyata dari angka dan statistik satu kota. Dengan simbol yang sederhana, saya berharap peta saya mudah dipahami, tuturnya yang juga hadir dalam pameran.

Selain desain halaman dan sampul, Josh juga mempertimbangkan jenis kertas yang sekiranya mempermudah pembaca. Menurut Josh, sisi-sisi fisik sebuah buku adalah salah satu keunggulan buku sehingga tidak akan ditinggalkan pembaca.

Direktur Karta Pustaka Yogyakarta Anggi Minarni mengatakan, pameran buku tersebut memberi gambaran perbandingan budaya buku di Indonesia dan negeri Kincir Angin tersebut. "Dari pameran ini terlihat budaya buku di Indonesia masih tertinggal jauh dari Belanda," tuturnya.

Menurut Anggi, selain bahan dan warna buku, Indonesia juga tertinggal dalam desain sampul buku. Sejauh ini, desain sampul buku belum berkembang di Indonesia sehingga buku kurang menarik untuk pembaca. Hal ini dikhawatirkan menurunkan minat baca terhadap buku-buku Indonesia.

IRE

Editor: made

sumber: kompas.com