Buku Kurikulum 2013 Boleh di Cetak di Daerah?

17 Juli 2014 Berita Pendidikan


Mengingat besarnya dana yang digunakan dalam pengadaan buku sekolah, maka tidak mengherankan jika kemudian lembaga, badan, atau kelompok yang diberi tanggung jawab untuk mengelola penggunaan dana tersebut menjadi incaran berbagai pihak yang berharap turut memperoleh keuntungan dari penggunaan dana tersebut, Banyak upaya yang dilakukan instansi pendidikan dalam program buku kurikulum 2013, terutama dalam masalah percetakan buku kurikulum tersebut.

Upaya ini dilakukan untuk mempercepat distribusi buku kurikulum 2013 ke sekolah-sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar di tahun ajaran baru dimulai. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh mengatakan "Percetakan buku kurikulum 2013 boleh dilakukan di daerah. " "Silahkan saja percetakan di daerah menerima pesanan cetakan untuk didistribusikan di wilayahnya, kalau itu memang tujuannya untuk memudahkan sampai ke sekolah," ujar M. Nuh di Jayapura.

Gubernur Papua Lukas Enembe. Lukas menawarkan agar distribusi dan percetakan buku kukrikulum 2013 untuk wilayahnya bisa dikerjakan di Papua. Usulan tersebut diberikan mengingat hingga saat ini masih banyak sekolah di Papua yang belum menerima buku tersebut. sehingga mengakibatkan kecemasan akan terjadinya kekacauan pembelajaran di tahun ajaran baru. Menurut Nuh, hal itu bisa saja dilakukan.

Pemenang tender percetakan buku pelajaran kurikulum 2013 yang telah ditentukan dapat menyerahkan kewenangan itu pada percetakan yang ada di daerah. Kemendikbud akan menjembatani kerja sama tersebut. "Itu urusannya sudah bisnis to bisnis, b to b. Akan kita jembatani. Pada pemenang tender di wilayah timur, kita akan beri tahu ada percetakan bagus yang bisa membantu," jelasnya. Ia meyakinkan, perusahaan percetakan pemenang tender tidak akan dirugikan dengan kerja sama tersebut. Biaya pengiriman dapat dijadikan salah satu pertimbangan kerja sama. Selain itu, pengadaan juga bisa lebih dipercepat.

"Dia kan (pemenang tender) bisa menghitung berapa biaya transpor yang dibutuhkan. Kalau mereka di" sini kan bisa mengurangi transport," pungkas mantan rektor Institus Sepuluh November (ITS) itu. Akan tetapi, lanjutnya, kalau ternyata harganya juga mahal tentu hal itu tidak kompetitif.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari jpnn.com)