Budaya Menyontek Sudah Biasa?

9 Mei 2011 Berita Pendidikan


Pakar pendidikan Prof Dr Ahman mengatakan banyak fenomena budaya menyontek di berbagai level pendidikan harus diantisipasi secara dini, karena dapat menimbulkan ekses berupa terbukanya peluang melakukan korupsi, mengingat dasar kejujuran tidak dimiliki oleh mereka.

"Untuk itu para pendidik perlu meningkatkan perannya dalam proses pendidikan serta bimbingan dan konseling melakukan pendekatan budaya agar generasi muda akan memiliki jati diri yang sama." kata Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesi (UPI) Bandung.

Dia berpendapat, jangan sampai anak-anak kehilangan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa daerah masing-masing.

"Sudah menjadi fungsi bimbingan dan konseling menjadi pemeran utama dalam membangun karakter bangsa. Ini harus dilakukan untuk menanamkan pendidikan karakter generasi muda," kata Ahman dalam seminar nasional bertema "Optimalisasi Pengembangan Karakter Siswa Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling".

Dikatakan dia, sangat penting menekankan perlunya terus menerus melakukan upaya menanamkan kepada siswa pentingnya berprestasi secara jujur.

"Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk membuat program yang konkret dalam pembangunan karakter bangsa ini menghasilkan perilaku positif yang nyata," tukasnya.

Sementara itu Rektor UPI Bandung Prof Dr Sunaryo mengemukakan berbicara soal karakter tidak terlepas dari persoalan hidup sehari-hari yang tidak dipisahkan dari proses kultural dan tidak bisa dibangun secara instan.

Karakter (engrave) adalah upaya untuk mengukir karakter unik bangsa dengan "core value" atau perilaku yang baik, cerdas, kreatif, kerja keras, jujur dan tanggung jawab, bukan merupakan kumpulan karakter suatu kelompok atau agregat, ujar dia.

Hanya satu yang mengikat adalah kultur atau budaya yang hidup dalam suatu bangsa.

Membentuk karakter tentunya adalah memperkokoh, melestarikan budaya yang dinamis berinteraksi dengan budaya lain sebagai proses adaptif dalam mengembangkan karakter suatu bangsa.

Sesungguhnya harus mampu merumuskan, mentransformasikan nilai yang hidup dalam budaya masyarakat. Dalam bentuk lokal itulah yang disebut kearifan lokal (Local Wisdom) yang mampu menangkis nilai negatif dari luar dan membangun "core value" bangsa Indonesia. Perlu kemampuan pendidik untuk menerjemahkan secara konseptual.

"Jangan sekali-sekali dipisahkan sebagai dikotomi dalam pendidikan akademik, harus menjadi keutuhan dan menjadi proses blending dalam pembangunan karakter bangsa, dan akademik yang membawa kemaslahatan manusia," kata Sunaryo.

Menurut dia, ada empat pilar yang menjadi dasar kebangsaan yang harus dibentuk dalam pendidikan, yaitu pilar pertama cinta tanah air (melalui kecerdasan dan kepakaran harus ada dalam kata hati juga diri pribadi).

Pilar kedua, memajukan kesejahteraan umum (adanya kecakapan hidup untuk menyejahterakan secara material yang sustainable), pilar ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa (perekatnya adalah kecerdasan kultur).

Pilar keempat adalah turut serta menjaga perdamaian dunia (keunikan individu, kelompok sebagai sumber konflik perlu disadarkan dengan kemampuan komunikasi kultural).

Esensi pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri.

"Pada dasarnya siswa harus memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian dan lainnya sesuai dengan definisi pendidikan Pasal 1 (1) UU No. 20/2003)," ujarnya.

Kemudian ada indikator dari enam karakteristik keutuhan kepribadian, kata dia, yaitu adanya sikap menghargai, melakukan kreasi, memiliki keimanan, didasari oleh keilmuan, melakukan sintesis dengan dilandasi etika perlu diperhatikan.

Sumber: berita8.com