Budaya Betawi Jadi Ekstrakurikuler

10 Agustus 2010 Berita Pendidikan


Beragam cara dilakukan untuk mempertahankan dan melestarikan budaya Betawi. Seperti yang dilakukan SMK Prima Wisata, Kembangan, Jakarta Barat yang memasukkan kebudayaan Betawi dalam kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) bagi para siswanya.

Sekolah yang pada awalnya bernama yayasan Al Mansuriah ini didirikan oleh seorang tokoh asal Betawi bernama KH Arsyad pada tahun 1980. Yayasan ini bergerak di bidang keagamaan, seperti pengajian, majelis taklim dan lain sebagainya. Namun, atas permintaan warga sekitar, yayasan itu kemudian mendirikan sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1985. Melihat respon positif dan mewujudkan permintaan para warga, kemudian pada tahun 1999 yayasan itu juga membangun sebuah SMP Al Mansuriah.

Seiring perjalanan waktu dan terjadinya perkembangan, ditahun 2005 pihak yayasan mendirikan SMK Prima Wisata yang fokus pada pendidikan dunia wisata. Dalam perjalanannya, SMK tersebut memasukan budaya Betawi dalam kegiatan ekskul bagi para siswanya.

Kepala Sekolah SMK Prima Wisata, Najihun, mengungkapkan, program tersebut bertujuan para siswa tetap dapat melestarikan budaya Betawi di lingkungan sekolah. Apalagi, para siswa itu kemungkinan besar akan merambah dunia kerja pada bidang pariwisata dan diharapkan budaya Betawi yang mereka peroleh dari ekskul bisa memberikan sumbangsih bagi dunia pariwisata.

Saat ini, dari 600 siswa SMK Prima Wisata, kata Najihun, sekitar 40 persen atau sekitar 250 siswa adalah keturunan Betawi. Sedangkan untuk jumlah karyawan keseluruhannya berjumlah 40 orang, di mana 60 persen diantaranya adalah orang Betawi asli.

Ekskul budaya Betawi yang terdapat di sekolah itu antara lain seperti, tai-tarian asli Betawi, lenong, musik khas Betawi, kuliner Betawi dan lain sebagainya. Menurut Najihun, antusias para siswa dalam mengikuti kegiatan ekskul tersebut cukup besar. "Dari keseluruhan siswa yang ikut ekskul budaya tersebut jumlahnya hampir mencapai 100 orang," ujar Najihun, kepada beritajakarta.com, Jumat (6/8).

Selain ekskul, ia juga membuat program rutin setiap tahun di mana para siswanya berkunjung ke tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar Kota Tua sebagai tujuan pariwisata. Dengan diterapkannya ekskul budaya Betawi di sekolahnya, ia berharap dinas terkait dapat melakukan pembinaan yang lebih baik agar para siswa lebih peduli dengan budaya asli Indonesia dan tidak selalu berkiblat pada budaya barat yang belum tentu positif manfaatnya. "Dari pada mereka jalan-jalan ke mal, lebih baik kita arahkan ke museum untuk mengenal sejarah, budaya, dan pariwisata. Selain itu, wisata Kota Tua juga identik dengan budaya Betawi," ucap pria yang juga asli Betawi ini.

Sumber: beritajakarta.com