Berita Pendidikan
14 Desember 2009

Belajar Sambil Bermukim, Apa Salahnya?

JAKARTA, KOMPAS.com - Belajar sambil bermukim? Biasanya sih pesantren tuh... hmm... apa yang pertama kali terlintas dalam benak MuDAers ketika kata pesantren muncul?

Disiplin, gaptek, ngantri, ngaji, kitab kuning, dan semua hal yang berhubungan dengan agama? Memang benar, pesantren identik dengan itu semua. Tapi jangan coba-coba memandang dunia pesantren sebelah mata lho. Sebab, tak sedikit anak jebolan pesantren menjadi orang penting di negeri ini.

Misalnya saja Dr Hidayat Nur Wahid, MA, Ketua MPR 2004-2009, beliau adalah salah satu jebolan Pondok Pesantren Modern Gontor. Pondok pesantren telah lama berkiprah di Indonesia. Perkembangannya juga pesat. Satu hal yang perlu kamu ketahui, MuDAers, sebenarnya dunia pesantren bukanlah dunia yang membuat para pelajar seperti dipenjara dan sama sekali tidak membuat pikiran mereka menjadi kolot. Justru sebaliknya, di dunia pesantren pikiran kita akan lebih terbuka, mandiri, dan dewasa.

Para santri terbiasa harus tinggal bersama, mengurus diri sendiri, dalam asrama yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda, dari berbagai suku, dari berbagai latar belakang. Di sinilah tantangan besarnya. Pelajar harus bisa menjaga agar di antara mereka tak timbul perpecahan.

Lalu, gimana sih sistem pendidikannya? Secara garis besar, pesantren hampir sama dengan sekolah-sekolah umum. Hanya saja, ada pelajaran-pelajaran yang ditambahkan, seperti nahwu, shorof, tafsir, hadis, dan ushul fiqh.

Membosankan?

Huufft... kayanya membosankan deh. Siapa bilang!? Justru mereka yang belajar sambil bermukim itu tak pernah merasa bosan karena kegiatan yang begitu padat dan juga selalu bertemu dengan teman-teman setiap hari. Kalian bayangkan saja, saya, misalnya, mulai dari mata melek sampai tertutup lagi kegiatan terus mengejar saya. Saya harus bangun jam tiga pagi, memulai aktivitas sehari-hari dengan shalat tahajud, dilanjutkan membaca Al Quran sambil menunggu shalat subuh tiba. Ya, walaupun mata ngantuk berat lima watt, saya paksain demi menjalankan disiplin.

Setelah melaksanakan shalat subuh, saya tidak bisa santai karena harus mengantri mandi (mau mandi aja kok ngantri), sarapan pagi (ngantri lagi...), serta persiapan masuk kelas untuk mengikuti pelajaran formal.

Di kelas sama seperti belajar teman-teman di sekolah umum. Saya belajar di kelas sampai jam satu siang. Abis itu langsung ke masjid buat shalat zuhur. Abis shalat zuhur (yang tentunya ngantri lagi), kita makan siang. Nah... kalau udah makan siang, saya bisa istirahat (kali ini gak perlu ngantri) dengan tenang niih.

Eitts... tapi jangan terlalu lama karena saya harus bangun ketika ashar tiba, mendirikan shalat empat rakaat lalu mengikuti ekskul. Tapi kadang-kadang kalau sore hari saya lebih memilih untuk olahraga biar badan sehat dan pikiran gak stress (makanya saya awet muda, ha-ha). Waktu yang ada antara selesai shalat maghrib dan isya dipergunakan untuk makan malam (masih dengan peraturan yang sama, ngantri). Setelah isya, saya harus masuk kelas lagi.

Loh, kok, untuk apa? Saya masuk kelas untuk belajar kitab kuning. Di bagian ini saya sering merasakan bete karena memang saya kurang mengerti pelajaran itu. Tapi, bagaimanapun, pelajaran ini harus saya lewati dengan disiplin. Saya belajar sampai jam sepuluh malam.

Hufft... sungguh kegiatan yang melelahkan bukan? Tapi saya sih enjoy aja, menikmati segala hal yang ada di sekitar saya. Santri cuma belajar mengaji. Nah, itu dia paradigma yang salah dan harus dihilangkan.

Betul, MuDAers, kalau mereka yang belajar di pesantren memang lebih sering bertemu dengan pelajaran yang berbau agama. Tapi bukan berarti mereka tak mampu bersaing dengan pelajar sekolah-sekolah lain. Buktinya, ada santri yang merangkap menjadi wartawan harian lokal di daerah Bogor. Muhammad Sobur namanya. Teman kita yang satu ini masih duduk di kelas 3 IPA 1 lho, tapi tulisannya sudah melanglang buana dibaca banyak orang. Dia sudah menjadi wartawan yang bertugas mencari berita tentang pendidikan yang akan dimuat di harian lokal di daerah Bogor.

Tuh kan, benar, kalau santri tak hanya belajar mengaji. Santri masih bisa mengembangkan hobi dan potensinya sesuai bakat yang dimiliki.

Terorisme?

Jadi, sekali lagi saya mengingatkan MuDAers, jangan pernah memandang pondok pesantren dengan sebelah mata. Masyarakat pun setuju kalau pondok pesantren adalah wadah untuk membekali anak-anak mereka di dunia dan di akhirat.

Menurut saya sih, pesantren itu bagus untuk menjaga anak-anak kita dari pergaulan yang semakin liar. Juga dalam dakwah Islam, kata Ibu Wartini yang ditemui di salah satu pusat perbelanjaan di Bogor.

Soal isu propaganda yang menyebut, katanya, teroris yang sempat berkeliaran di Indonesia adalah bermula dari dunia pesantren. Nah lo...!!

Tenang, kalau masalah itu, saya berani jamin. Tidak ada satu pun pesantren di Indonesia yang mengajarkan kekerasan, apalagi kalau teror-meneror. Itu semua hanya isu tak bertanggung jawab dengan tujuan ingin memecah belah kita sebagai bangsa Indonesia juga sebagai umat Islam. Bagaimanapun, kita sebagai pelajar Indonesia bisa memosisikan diri kita dan mengambil tiap nilai positif dari lembaga pendidikan di Indonesia.

Jadi, belajar sambil bermukim, apa salahnya? Ayo! Semangat terus, pelajar Indonesia, karena kesuksesan ada di tangan kita!

(Tim Kompas MuDA Madrasah Aliyah Ummul Quro Al-IslamiBogor: Abdul Rosyid, Nurmala Sari, Dewi Fathahillah, Al Azar, Nazilla Faradibah)

Editor: latief

Sumber: Kompas Cetak(kompas.com)

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris