Beberapa Sekolah SLB Tidak Mendapat Soal Braile

7 April 2016 Berita Pendidikan


Keterbatasan tidak menghalangi para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk meraih ilmu tinggi. Hari Senin lalu, 4 April 2016, para siswa SLB juga mengikuti Ujian Nasional, serentak dengan sekolah biasanya.

Empat siswa SLB di Denpasar dengan semangat mengikuti UN agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Salah satu siswa tunanetra tersebut mengatakan materi soal menggunakan huruf braile sehingga memudahkan mereka untuk membaca.

Namun tidak semua sekolah mendapatkan soal braile. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menerima laporan dari psko FSGI di Tasikmalaya, Kupang, Kerawang, Medan, Mataram, Karanganyar, Sidoardjo, Makassar dan Jakarta bahwa terdapat diskriminasi terhadap peserta tunanetra selama UN berlangsung.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) FSGI, Retno Listyarti mengatakan tidak tersedia soal UN braile bagi penyandang tunanetra. Ia mengungkapkan bahwa memang soal UN braile sangatlah mahal, yakni sekitar Rp500 ribu per soal. Seharusnya mahalnya harga tidak menjadi halangan bagi pemerintah.

Akhirnya, siswa tunanetra harus dibacakan soal oleh pengawas. Meski sudah dibacakan, siswa masih kesulitan dengan soal yang disertai gambar, simbol, atau grafik. Mereka perlu berimajinasi gambar yang dimaksud dalam soal. "Dan hal ini jelas bentuk diskriminasi pemerintah terhadap penyandang disabilitas," kata Retno.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)