Beberapa Daerah di Jateng Tolak 5 Hari Sekolah

4 September 2015 Berita Pendidikan


Gurbernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mencanangkan penerapan lima hari sekolah. Namun beberapa daerah menolak penerapan tersebut. Baik kalangan pendidik maupun orang tua siswa menilai penerapan ini lebih banyak dampak negatif dibandingkan positifnya.

Beberapa daerah yang menolak penerapan lima hari sekolah yaitu Solo, Batang, Temanggung, Boyolali, dan Purbalingga. Kepala SMKN 1 Purbalingga, Kamson, mengatakan sekolah yang dipimpinnya tak akan melaksanakan program lima hari sekolah.

"Dinas Pendidikan Purbalingga hanya meminta kami mensosialisasikan wacana itu. Tidak ada keharusan melaksanakan," ujarnya.

Menurut Kamson, dengan kurikulum 2013 dan enam hari sekolah, siswa sekolahnya selesai belajar jam 15.15. Jika dipadatkan menjadi lima hari, siswa akan pulang lebih sore lagi. Selain itu, semangat belajar siswa dan mengajar guru akan merendah.

"Setelah sore, siswa dan guru sudah lelah. Mungkin guru mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Muridnya hanya memenuhi absen. Jadi sudah tidak efektif lagi," kata Kamson.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Nur Hadi Amiyanto mengungkapkan sistem lima hari sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah provinsi Jateng untuk menyamakan sistem pendidikan dengan negara maju lain. Sebab saat ini, satu-satunya negara, dimana hari Sabtu masuk sekolah hanya di Indonesia.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)