Beasiswa untuk Menggelorakan Semangat Cinta Laut

21 September 2010 Berita Pendidikan


Peduli Laut, Muhammad Najikh (duduk tiga dari kiri) bersama para penerima beasiswa PT KML di Gresik, Jawa Timur, baru-baru ini.

Program corporate social responsibility(CSR) pendidikan PT Kelola Mina Laut (KML) Gresik difokuskan di bidang perikanan dan pertanian.Ada target-target yang harus dioptimalisasi.

PT Kelola Mina Laut yang mulai beroperasi 1994,merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan hasil perikanan.Sampai saat ini mampu menampung sekitar 8 ribu karyawan yang tersebar di hampir 40 lokasi kota/kabupaten di Indonesia. Sebagai perusahaan yang tergolong besar,KML tentu mempunyai tanggung jawab sosial. Mengingat, CSR adalah suatu konsep bahwa organisasi perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen,karyawan,pemegang saham,komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional.

Konsep CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan.Di mana suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden.Namun,juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang. Hal itulah yang dipegang pendiri PT KML,Mohammad Nadjikh.

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam pengolahan hasil perikanan,tentu berhubungan erat dengan sumber daya alam,laut.Dalam pandangannya, laut harus dijaga dan dicintai.Mengingat,hampir 2/3 potensi Indonesia dari laut. Ironisnya,generasi sekarang kurang cinta laut. Sekolah pun jarang yang mengambil jurusan perikanan atau pertanian.Semuanya rebutan ke ekonomi,teknik hingga dokter.

Padahal,potensi yang memerlukan sentuhan adalah potensi laut yang luar biasa, katanya memberikan ilustrasi. Ketidaktertarikan generasi muda Indonesia akan pengembangan potensi laut,membuat alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu prihatin. Indonesia yang didominasi laut, justru kurang tergarap secara maksimal.Para pemudanya takut laut.Dari tahun ke tahun jumlah nelayan berkurang. Ironisnya,pengembangan potensi laut kurang mendapat dukungan dari pemerintah.

Terbukti,program pemerintah Indonesia yang memperkenalkan gemar makan ikan,ternyata hanya kuat di tingkatan kampanye.Namun realisasinya cukup kurang, karena tidak diikuti dengan insentif bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak bidang pengolahan hasil perikanan. Sisi lain, sadar atau tidak sadar masyarakat Indonesia sendiri mulai meninggalkan kebiasaan membeli ikan.

Diduga pemicunya,selain pasar yang cenderung becek, juga rasa amis yang membuat masyarakat malas datang ke pasar ikan. Hasilnya,beberapa data lembaga yang berkompeten merilis, penduduk Indonesia kalah dibandingkan dengan penduduk Jepang dalam hal mengonsumsi ikan.Saat ini rata-rata tingkat konsumsi ikan nasional baru 30,17 kilogram per kapita per tahun atau lebih rendah dibanding pola pangan harapan yang seharusnya sebesar 31,4 kilogram.

Bandingkan dengan Jepang yang mencapai 63,7 kilogram per penduduk per tahun, bahkan dengan Malaysia yang dikenal suka mencuri ikan di perairan Indonesia konsumsinya di atas 40 kg per penduduk per tahun. Angka itu menunjukkan jika tingkat konsumsi ikan penduduk Indonesia belum merata.Data Sensus Nasional Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat konsumsi ikan wilayah Jatim baru mencapai 28,02 kilogram per kapita per tahun.

Konsumsi ikan rata-rata dilakukan oleh kalangan masyarakat menengah atas. Sementara masyarakat menengah bawah, konsumsinya sangat rendah. Berangkat dari itu semua, Presiden Direktur PT KML Mohammad Nadjikh merasa turut bertanggung jawab.Tanggung jawab itu direalisasikan dengan bentuk membangun cinta laut secara berkelanjutan. Dan yang sudah dikembangkan adalah pemberian beasiswa pendidikan berkelanjutan kepada para mahasiswa.

Pria kelahiran Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar,Kabupaten Gresik itu menyebutkan, bila ada beberapa poin penting yang mendasarinya untuk membuat program pendidikan yang disisihkan dari keuntungan dalam bentuk CSR, di antaranya dia berharap nilai cinta laut dan pertanian terus berkembang pada generasi muda. Selain itu,pihaknya juga tetap memperhatikan kesejahteraan para nelayan, pelaku pertanian hingga para supplier. Karena, dirinya selama ini dibuat prihatin dengan kondisi para nelayan yang kebanyakan kurang dari sisi kesejahteraannya.

Paling penting lagi, dalam pemberian beasiswa kepada mahasiswa tersebut, saya ingin selalu menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Bahwa, ijazah strata satu itu hanya kartu truf.Artinya,sebelum menggunakan ijazah tersebut harus punya semangat berusaha dahulu, tidak langsung menggunakan ijazah untuk mencari pekerjaan, kata Nadjikh. Untuk mencapai target tersebut, manajemen PT KML menerapkan beberapa persyaratan dalam memberikan beasiswa.

Di antaranya, beasiswa diberikan kepada mahasiswa anak kurang mampu yang sudah terdaftar di perguruan tinggi negeri, khususnya yang mengambil jurusan pertanian dan perikanan. Itu pun dalam perjalanannya, mahasiswa tersebut harus mampu meraih IP (indeks prestasi) minimal 3,00. HRD Manager PT KML Tofan Rudiyanto menambahkan, dalam pemberian beasiswa itu manajemen terus melakukan pantauan kepada mahasiswa yang bersangkutan.

Termasuk di antaranya, setiap tahun ada pertemuan internal antarpenerima beasiswa dengan materi motivasi dari Presdir KML Mohammad Nadjikh.Pembekalan ini dimaksudkan agar mereka tetap termotivasi untuk terus berprestasi. Wujud beasiswa beraneka macam.Ada yang pendaftaran, ada yang SPP setiap semesternya. Bahkan, tidak sedikit penerima beasiswa yang mendapat bantuan pendukung pendidikan, berupa laptop,terangnya.

Manajemen PT KML sendiri memang sengaja tidak memberikan beasiswa kepada pelajar SD, SMP maupun SMA.Dengan alasan supaya tepat sasaran. Nah, sejak digagas 2004 lalu, saat ini sudah ada sedikitnya 50 mahasiswa yang mendapat beasiswa. Pada tahap awal ini dikhususkan untuk mahasiswa yang berasal dari Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto,Surabaya,Sidoarjo dan Lamongan).

Tidak menutup kemungkinan akan kami kembangkan di 40 kota/ kabupaten yang lokasi pabrik kami berproduksi.Itu memang target kami, karena untuk menumbuhkan cinta laut, harus dilakukan secara luas di Indonesia,kata Mohammad Najikh. Dari 40 penerima beasiswa PT KML, salah satunya adalah Fahmi Nasrullah,warga Jalan Sunan Giri 8/38 Kecamatan Kebomas,Gresik. Putra salah satu penjual jamu tradisional itu merasakan manfaat pemberian beasiswa PT KML.

Bukan hanya mendapatkan biaya saat kuliah di IPB, namun juga mendapatkan pengalaman dan motivasi langsung dari pendiri PT KML,Mohammad Nadjikh. Enaknya lagi, kami diberi kebebasan untuk menentukan pilihan saat kerja.Kendati kami semua diberi kesempatan seluas-luasnya untuk kerja di KML,aku pria yang baru lulus tahun lalu dengan nilai IPK terbaik 3,86. Fahmi mengakui,sejak mendapatkan beasiswa,dirinya selalu dimonitor dengan terus berkomunikasi dengan manajemen PT KML.

Mulai dari kesulitan biaya hingga hal-hal kecil yang sekiranya menjadi gangguan dalam belajar. Semuanya terus dikomunikasikan. Kami merasa enjoy dan tidak tertekan. Buktinya saya mendapat hasil yang terbaik di IPB tahun lalu. Saya sekarang sudah kerja di KML, kata Fahmi yang lahir 8 Februari 1988 tersebut. Kesungguhan PT KML dalam memberikan beasiswa untuk menanamkan rasa cinta laut ini mendapat perhatian Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).Karena itu, PT KML adalah salah satu perusahaan yang akan mendapatkan Anugerah Peduli Pendidikan. (ashadi ik)

Sumber: seputar-indonesia.com