Baru Sekitar 6.000 Guru Mengakses Film Pendidikan

5 Oktober 2009 Berita Pendidikan


Medan - Dari sekitar 3,8 juta guru di Indonesia, hanya sekitar 6.000 orang guru yang telah mengakses film tentang pendidikan yang dikeluarkan Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) Depdiknas RI.

Kendalanya karena belum terpasangnya jaringan film tersebut ke sekolah-sekolah di tanah air yang jumlahnya mencapai 240 ribu sekolah. Ditambah cukup mahalnya perangkat yang harus dipasangkan itu, sehingga saat ini baru daerah Jakarta yang baru mengaksesnya.

Demikian disampaikan Tim Ahli Pustekkom Depdiknas RI, Michael kepada wartawan pada Festival dan Anugerah Pendidikan 2009 di Asrama Haji Pangkalan Masyhur Medan, Sabtu (3/10).

Dijelaskan Michael, karena persoalan tersebut menyebabkan saat ini baru sekitar 17.500 sekolah baru memiliki jaringan tersebut. Dan baru 939 kantor maupun instansi, seperti perpustakaan yang telah terpasang perangkat untuk dapat mengkases.

Mendesak

Padahal, ucap Michael metode pembelajaran sistem jaringan ini sangat mendesak seiring dengan perkembangan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bergerak sangat pesat. Untuk itu, katanya sesuai rencana strategis pendidikan nasional Depdiknas RI, maja ditargetkan sampai tahun 2014 nanti sekitar 100 ribu sekolah sudah akan dapat mengkases jaringan video pendidikan ini.

Dengan film pendidikan ini, ucapnya siswa dapat mengetahui lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang terus berkembang, selanjutnya memperaktekannya, terang Michael.

Pada pestival itu juga dilaksanakan lomba untuk tingkat SD yaitu Edu Game, SMP Lomba Kihajar dan tingkat SMA Edu Reporter. Juga ceramah ilmiah tentang menulis karya ilmiah disampaikan Redaktur Daerah Harian Analisa, H Ali Murthado.

Sebelumnya. Kepala Bidang Teknologi Informasi Depdiknas RI, Rusjdy Sjakyakirti Arifin mengatakan, kemajuan teknlogi informasi mengharuskan terjadinya perubahan paradigma proses pembelajaran yang harus dilaksanakan seluruh siswa.

Misalnya pergeseran dari guru yang tadinya selalu dianggap sebagai pusat pembelajaran berubah menjadi siswa sebagai pembelajaran itu sendiri. Kemudian perubahan dari stimulan tunggal oleh guru menjadi stimulan pada seluruh aspek yang dipelajari tersebut.

Dengan demikian, kata Rusjdy anak didik dituntut memiliki penguasaan yang baik terhadap TIK, sehingga siswa dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak sangat cepat.

Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Drs H Bahrumsyah diwakili Kasubdis Bina Program, Dra Rosmawati Nadeak menyampaikan dukungannya atas kegiatan itu mengingat pentingnya penguasaan anak didik terhadap IT.

Dinas Pendidikan Sumut, kata Nadeak memprioritaskan program tersebut dan termasuk dalam 7 kebijakan dan 10 program terobosan pendidikan Sumut yang terangkum dalam Grand Design pendidikan visi misi pendidikan Sumut. (rmd)

Sumber: analisadaily.com