Berita Pendidikan
7 Desember 2009

Baru 37 dari 97 Rumah Sakit Pendidikan Terakredisasi

Workshop ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari delapan rumah sakit pendidikan mitra FK UMY, yaitu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RSUD Setjonegoro Wonosobo, Djojonegoro Temanggung, RSUD Tidar Magelang, RSUD Kota Salatiga, RSUD Kota Yogyakarta, RSUD Panembahan Senopati Bantul, dan RSUD Saras Husada Purworejo,ungkap dekan

FK-UMY, dr Erwin Santosa SpA MKes. mengatakan workshop ini digelar untuk membantu rumah sakit mitra FK-UMY dalam memenuhi kriteria sebagai rumah sakit pendidikan melalui akreditasi.

Ia mengatakan workshop ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari delapan rumah sakit pendidikan mitra FK-UMY, yaitu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RSUD Setjonegoro Wonosobo, Djojonegoro Temanggung, RSUD Tidar Magelang, RSUD Kota Salatiga, RSUD Kota Yogyakarta, RSUD Panembahan Senopati Bantul, dan RSUD Saras Husada Purworejo.

Erwin mengatakan salah satu persyaratan pendidikan kedokteran adalah tersedianya rumah sakit pendidikan sebagai sebuah rumah sakit, yang selain menyediakan pelayanan bagi pasien, juga menyediakan pelatihan klinik untuk calon dokter, calon perawat, dan calon tenaga kesehatan lainnya.

Katanya, berdasarkan SK Menkes No 1069/Menkes/SK/XI/2008 tentang Pedoman Klasifikasi dan Standar Rumah Sakit Pendidikan, setiap rumah sakit pendidikan harus memenuhi standar kriteria dan persyaratan tertentu.

Dr dr Slamet Riyadi Yuwono DTMH MARS, ketua Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia, di Indonesia ada 97 rumah sakit pendidikan, namun baru 37 diantaranya yang sudah terakredisasi.

Menurut dia, standarisasi ini penting dan bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan standar pendidikan profesi dokter, serta meningkatkan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran di rumah sakit pendidikan tersebut.

Standarisasi ini mencakup banyak aspek, bukan hanya aspek pendidikan kedokteran saja, namun banyak aspek lain yang perlu standar. ''Banyak yang harus distandarkan standar visi,misi, komitmen dan persyaratan, strategi manajemen dan administrasi, standar sumber daya manusia untuk program pendidikan klinik, standar penunjang pendidikan, dan standar perancangan dan pelaksaan program klinis yang berkualitas,'' ungkapnya.

Slamet juga mengingatkan agar rumah sakit pendidikan tidak membedakan pendidikan, penelitian dan pelayanan.

''Pendidikan dan pelayanan dalam rumah sakit pendidikan adalah tiga hal yang harus terintegrasi,'' ungkapnya.

Slamet juga menyarankan saat berpraktek di rumah sakit pendidikan tersebut, mahasiswa tersebut harus dibiasakan melakukan kerjasama dengan perawat, farmasis, dan tenaga kesehatan lainnya. ''Sudah tidak zamannya lagi dokter bekerja sendiri, dokter pun perlu konsultasi tentang banyak hal dengan yang lainnya,'' imbuhnya.

Slamet sangat berharap rumah sakit pendidikan ini akan mampu menjadi salah satu unsure pendidikan dokter yang baik yang nantinya akan melahirkan dokter yang dapat melayani pasien dengan baik.

Semuanya dibutuhkan, katanya, untuk menciptakan dokter yang profesional, kompetitif, beretika serta memiliki nasionalisme yang tinggi. yo/taq

Sumber: Republika Online

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris