Asuransi Bisa Bantu Atasi Biaya Pendidikan

12 Agustus 2011 Berita Pendidikan


BANDUNG - Orang tua perlu merencanakan biaya pendidikan sedini mungkin yang bakal semakin mahal. Salah satunya dengan asuransi pendidikan. Mahalnya pendidikan disebabkan inflasi dan biaya hidup mahasiswa.

Menurut Vice President Corporate Branding, Marketing, and Communication Sequislife Fibriyani Elastria, inflasi di Indonesia rata-rata 9-10 persen per tahun. Data tersebut hasil rata-rata inflasi selama 10 tahun terakhir. "Untuk pendidikan, inflasinya bisa sampai dua kali lipat," katanya di Istana Plaza, Bandung, Rabu 10 Agustus 2011.

Selain itu, mahalnya biaya kuliah ikut disumbang oleh biaya hidup mahasiswa, misalnya untuk membeli buku, ongkos, dan indekos. "Biaya hidup itu mencapai 30-40 persen dana yang harus disiapkan orang tua diluar biaya kuliah," katanya.

Fibriyani mengatakan, orang tua seringkali terlupa oleh dua faktor tersebut, sehingga menjadi kalang kabut. Karena itu, ia menyarankan agar orang tua sedini mungkin merencanakan keuangan pendidikan. "Paling bagus dari anak sejak bayi sehingga nantinya tidak berat," ujarnya.

Biaya masuk sekolah dasar, menengah, dan atas plus atau swasta seperti Al Azhar, kata dia, mencapai 3-4 kali lipat sekolah negeri. Sedangkan sekolah internasional sebesar 10-18 kali lipat. Adapun kuliah kedokteran biayanya hingga dua kali lipat fakultas ekonomi.

Misalnya saat ini anak berusia dua tahun. Biaya pendidikan sekolah dasar non negeri yang berlaku sekarang sekitar Rp 57,5 juta hingga lulus. Saat empat tahun lagi pada 2015 anak mulai bersekolah, biayanya akan membengkak 1,5 kali lipat karena inflasi. Orang tua harus menyiapkan dana Rp 84,2 juta. "Sejak baru lahir sudah bisa didaftarkan asuransi pendidikan supaya preminya nggak mahal," katanya.

Ketika masuk SMP non negeri pada 10 tahun kemudian atau 2012 biayanya diperkirakan berlipat 2,5 kali menjadi Rp 103,8 juta. Biaya pendidikan itu mulai dari uang masuk sekolah, iuran bulanan, seragam, biaya ujian, hingga study tour.

Sedangkan untuk melanjutkan kuliah, kata Fibriyani, nasabahnya banyak yang memilih perguruan tinggi di luar negeri. Kampus favorit yang dituju berada di Amerika Serikat, Australia, atau Singapura yang terdekat. Salah satu alasannya, inflasi di negara tersebut berkisar 2-3 persen per tahun. "Biaya hidupnya mengikuti angka inflasi," katanya.

Walau begitu, jurusan dan kampus favorit di luar negeri ada yang tetao terhitung mahal, atau sama jika dibandingkan dengan inflasi di Indonesia. "Jadi harus dilihat juga tujuan kuliahnya kemana di luar negeri," ujarnya. Berdasarkan peringkat, jurusan favorit yang mahal di beberapa negara termasuk Indonesia, yaitu kedokteran, psikologi, hukum, teknik, dan ekonomi.

Sumber: kompas.com