Angka Anak Putus Sekolah di Palembang Cukup Tinggi

12 November 2010 Berita Pendidikan


PALEMBANG - Meski Gubernur Sumsel Alex Noerdin telah memprogramkan sekolah gratis sejak Januari 2009, jumlah anak putus sekolah di provinsi tersebut masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, hingga bulan ini tercatat masih ada 6.824 anak putus sekolah. Sebagian besar merupakan anak usia sekolah dasar, dengan jumlah 3.895 anak. Disusul anak usia SMA, sebanyak 1.523 anak dan usia SMP seba-nyak 1.406 orang.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Dinas Pendidikan Sumsel Widodo, Kamis (11/11) mengatakan tingginya jumlah anak putus sekolah ini disebabkan banyak faktor, antara lain jauhnya jarak rumah ke sekolah.

"Kondisi ini membuat anak atau orang tua murid enggan melanjutkan anaknya sekolah, seperti di Kota Pagaralam. Untuk sekolah siswa harus menempuh jarak 10 kilometer dengan berjalan kaki," ujarnya.

Faktor lainya, kata Widodo, adalah budaya masyarakat yang belum memandang pentingnya pendidikan. Pasalnya, masih ada sebagian orang tua membiarkan anaknya tidak sekolah karena sekolah pendidikan belum menjadi sebuah kebutuhan. Untuk itulah, sikap seperti ini harus segera dihilangkan seiring dengan adanya pendidikan dan sekolah gratis.

"Harus ada upaya untuk melakukan perubahan mengenai budaya ini. Dengan adanya dukungan semua pihak, kiranya orang tua dapat mengerti akan pentingnya pendidikan. Apalagi, pendidikan dapat menjamin kesejahteraan anak tersebut di kemudian hari. Untuk itulah,ke depan perlu dipikirkan kemungkinan adanya sangsi bagi orang tua yang membiarkan anaknya tidak sekolah," tegasnya.

Hal lain yang menjadi penyebab anak putus sekolah, sambung Widodo, adalah pendidikan di sekolah kurang menarik siswa sehingga mengakibatkan anak bosan bersekolah. Untuk itulah, Pemprov Sumsel akan segera bersama-sama dengan Kemendiknas, FKIP Unsri, LPMP, PGRI, dan Balai Tekom akan merumuskan penguatan kapasitas guru, kepala sekolah dan pengawas sehingga proses kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih hidup, menyenangkan dan berlangsung lebih membuat anak dapat menikmati kegiatan belajar-mengajar.

Sumber: mediaindonesia.com