Anak Daerah Terpencil Terhambat Sekolah Karena Tidak Bisa Bahasa Indonesia

31 Agustus 2015 Berita Pendidikan


Upaya pemerintah untuk memajukan pendidikan bangsa, seperti menerapkan program Wajib Belajar 12 tahun ternyata tidaklah cukup. Sebab masih banyak kendala yang perlu diperbaiki, terutama di daerah terpencil.

Lead Advisor on Regional Programs and Basic Education, Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia, Basilius Bengoteku mengatakan sebagian besar anak Indonesia di daerah terpencil tidak bisa melanjutkan sekolah, bahkan sejumlah anak tidak mendaftar sekolah sama sekali.

Menurut pria yang akrab disapa Bas ini, penyebab utama dari masalah tersebut adalah penguasaan bahasa Indonesia. Begitupun miskinnya pembelajaran di pedesaan dan daerah terpencil.

Bas mengatakan, hal ini terjadi di sejumlah wilayah Papua dan Papua Barat. Menurut Bas, anak - anak di sana tidak mengerti bahasa Indonesia, terkait bahasa yang digunakan sebagai pengantar belajar. Bahasa Indonesia terdengar asing bagi mereka, sebab dari kecil mereka menggunakan bahasa ibu.

Kasubdit Program dan Evaluasi, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lilik Sulistyowati juga mengemukakan hal yang sama. Ia mengatakan 90% anak di Papua tak bisa berbahasa Indonesia.

"Hampir semua anak di Papua itu hanya bisa berbahasa daerah setempat saja. Jadi mereka takut untuk ke sekolah karena guru yang mengajar menggunakan bahasa Indonesia," ungkap Lilik.

Untuk itu, pemerintah sudah mengantisipasi hal tersebut dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019. Dengan begitu, diharapkan program Wajib Belajar 12 Tahun dapat terlaksana dengan baik di seluruh pelosok negara.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)