90 Persen Penyakit Akibat Pola Makan

9 Agustus 2010 Berita Pendidikan


SEMARANG - Buruknya pola makan tidak hanya akan memicu timbulnya penyakit yang bersifat fisik semata, tetapi juga dapat memicu gangguan perilaku dan kejiwaan.

Seperti yang diungkapkan pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) Semarang, Profesor Muhammad Sulchan, sekitar 90 persen penyakit, baik yang bersifat fisik maupun mental, disebabkan pola dan jenis makanan.

Secara medis, otak dan sistem pencernaan sebenarnya memang memiliki hubungan spesial. Usus kerap dianggap sebagai 'otak kedua' atau sistem saraf tubuh yang terbesar kedua setelah otak, dan lebih dari 60 persen sistem imunitas tubuh berpusat di sistem pencernaan. Usus terhubung dengan otak melalui 'neurotransmitter' dan di ususlah hormon membuat bahagia seperti serotonin diproduksi.

"Ada penelitian yang menyatakan apa yang dimakan dapat memengaruhi perilaku manusia. Teori itu disebut neurotransmitter," kata Sulchan dalam seminar Sehat Badanku, Berkah Puasaku di Masjid Kampus Universitas Diponegoro, Semarang.

Ia menjelaskan, neurotransmitter itu dianalogikan mirip dengan orang yang mengonsumsi obat-obat penenang karena mengalami fobia (ketakutan) berada di tempat-tempat yang tinggi. "Setelah meminum obat penenang, maka orang yang menderita fobia tempat ketinggian itu akan merasakan efeknya dan menjadi tenang. Inilah yang disebut dengan teori neurotransmitter," katanya.

Menurut dia, semula orang gila juga hanya dianggap menderita penyakit mental biasa. Tetapi sekarang ada penelitian yang menyatakan gangguan mental seseorang dapat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan.

"Bahkan, pola makan yang salah pada manusia bisa mengakibatkan seseorang cenderung ke arah sikotik atau psikopat," katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau setiap orang untuk menjaga pola makan dan juga benar-benar tegas dalam memilih makanan yang mereka konsumsi. "Makanan yang enak belum tentu sehat, makanya seseorang perlu mengetahui makanan yang mereka konsumsi. Jangan asal telan," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Jateng, Prof. Mukhoyur, bahwa Islam sudah menetapkan makanan yang halal.

Menurut dia, makanan yang halal akan memengaruhi perilaku seseorang menjadi baik, sedangkan makanan yang haram akan berakibat sebaliknya. "Orang mabuk kerap kali berbuat di luar kendali. Hal ini karena alkohol yang terkandung dalam minuman keras merupakan bahan yang berbahaya bagi tubuh untuk itu dan Islam tegas mengharamkannya," kata Mukhoyur.

Sumber: health.kompas.com