'gula-Gula' Impian Studi di Belanda

4 Oktober 2011 Berita Pendidikan


DEVENTER Awalnya, Mochammad Yusni Aziz mengaku tidak punya rencana menempuh studi gelar Master-nya hingga ke Belanda. Memasuki tahun keempat kuliah di jurusan arsitektur Intitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Jawa Timur, tawaran beasiswa double degree dari Saxion University, Belanda, disambarnya. Pekan lalu, KOMPAS.com menemui Aziz dan beberapa pelajar Indonesia lain yang menuntut ilmu di salah satu kampus di Kota Deventer, untuk mengetahui alasan mereka memilih studi di negeri Kincir Angin ini.

"Awalnya, cuma kepengin lulus dan cari kerja, sudah itu saja. Untunglah ada tawaran beasiswa ini, dan saya memang sangat tertarik mendalami urban planning di sini, karena Belanda memang ahlinya. Urban planning sangat dibutuhkan di Indonesia saat ini dan ke depannya," ujar mahasiswa program double degree jurusan Urban and Regional Planning, Saxion University, ini.

Aziz mengatakan, sebagai pelajar internasional di kampus ini, ia harus menempuh studi dalam situasi, budaya, dan skema berpikir internasional. Satu hal yang menurutnya paling berharga menimba ilmu di sini adalah program magang internasional atau International Traineeships.

"Sebagai mahasiswa double degree, ini kami butuhkan sebagai wadah melatih skil atau praktik kerja dalam skala internasional secara langsung yang belum tentu kami dapatkan di Indonesia, kata insinyur lulusan teknik arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Jawa Timur, ini.

Lain halnya dengan Rizza Ardiyanti, lulusan Fakultas Teknik jurusan Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Dia mengaku, menimba ilmu di jurusan Environmental Technology untuk meraih gelar Master-nya di Saxion University adalah sudah dipilihan dengan mantap, khususnya Program Internasional.

Karena aku memang ingin kerja di luar negeri, tidak harus di Belanda. Saya tahu sulit, karena standar nilai dan bisa lulus di sini tinggi. Dibandingkan dengan Jerman, misalnya, di sini standarnya lebih tinggi, tapi itulah tantangannya, ucap mahasiswa yang akrab disapa Rizza ini.

Koneksi internasional

Kuliah, cari koneksi, dan lulus, kemudian kerja atau menjadi pebisnis, adalah impian mereka pada umumnya hingga rela meninggalkan jauh tanah airnya. Sekilas, dari wajah keduanya, rona keriaan terpancar sepanjang perbincangan.

Keriaan itu pulalah yang juga diperlihatkan oleh Laurentius Judhianto, pelajar Indonesia lainnya dari jurusan Art & Technology. Ia mengaku sepakat dengan pendapat tersebut Ia jujur mengakui, tujuannya sejak awal memilih studi ke Belanda adalah ingin menimba ilmu dalam kultur internasional dan bekerja atau berbisnis dalam skala internasional.

Laurentius menuturkan, mengikuti International Traineeships di Belanda adalah mimpi studi di kampus ini. Meskipun sebetulnya, lanjut dia, pengalaman kerja yang dilakoninya saat ini sambil kuliah sudah sangat cukup dijadikan langkah mantap ke muka.

Luar biasa, memang. Berdasarkan penuturannya, saat ini sudah ada dua perusahaan di Belanda yang meminangnya untuk bekerja. Padahal, baru tahun depan ia akan lulus untuk jenjang S-1 (Bachelor/International Programme) di kampus ini.

Padahal, lanjut Laurentius, jika menoleh ke belakang, ia mengaku tidak lulus untuk Program/Kurikulum Internasional di Sekolah Ciputra. Namun, ia tetap bertekad mengambil bidang yang memang sangat disukainya, yaitu desain dan teknologi di jurusan Art & Technology di kampus ini.

Saat ini saya sudah mengerjakan beberapa proyek pribadi, mulai dari fotografi sampai desain grafis di sini. Ini pengalaman mencari kerja sendiri sambil belajar. Kalau kita yakin dan berusaha keras, semua pasti ada jalan, ujarnya.

Soal culture shock?

Tentu saja ada, dan itu hanya persoalan waktu. Semakin cepat dan berani kita menghadapi gagap budaya itu di sini, semakin cepat kita melaluinya. Yang terpenting itu kan setelah kita lulus dari sini, itu yang harus dijadikan penyemangat, pungkas Laurentius seraya diamini Aziz dan Rizza.

Sumber: kompas.com