Berita Pendidikan
29 Desember 2009

7000 Guru Antre Sertifikasi

PONTIANAK Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat, Abdul Hadi mengatakan pihaknya menargetkan untuk melakukan sertifikasi bagi tujuh ribu guru sampai dengan 2014. Guru yang mendapatkan prioritas untuk mengikuti pelaksanaan sertifikasi ini adalah guru senior (berusia 50 tahun ke atas) dan berijazah sarjana (strata 1).
Menurut dia, hal tersebut sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2008 tentang Guru. Setelah 2014, baru guru-guru yang muda akan mendapat giliran, katanya usai Acara Penyerahan Sertifikat Pendidikan Sertifikasi Guru dalam Jabatan Rayon 20 Universitas Tanjungpura 2009 di Hotel Merpati, kemarin. Abdul Hadi juga mengungkapkan, sebetulnya jumlah guru yang belum mengikuti sertifikasi di provinsi ini masih jauh lebih banyak. Secara keseluruhan, Kalbar memiliki sekitar 56 ribu guru dan sepertiganya adalah sarjana. Sejak pertama kali dilaksanakan sampai dengan 2009 (4 tahun), jumlah guru yang sudah mendapatkan sertifikat di Kalbar baru sekitar lima ribu orang. Tahun 2010, akan digulirkan kembali program sertifikasi untuk 2.230 orang. Mengingat syarat sertifikasi adalah kualifikasi pendidikan guru yang harus S-1, dia menyarankan agar hal ini menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dalam rekrutmen guru. Kita harapkan nanti semua guru minimal sarjana, ujarnya.
Di tempat yang sama, Rektor Universitas Tanjungpura yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Rayon 20, DR Chairil Effendi mengatakan, isu tentang sertifikasi memang menghebohkan. Apalagi sertifikasi disusul dengan pemberian tunjangan profesi yang nominalnya cukup besar. Ada kesan seolah-olah tenaga pendidik berebut giliran untuk memperoleh sertifikasi, tak hanya di kalangan guru tetapi juga dosen. Sertifikasi diagung-agungkan secara berlebihan, seolah-olah selembar kertas itu adalah segalanya.
Ada yang sudah dapat sertifikasi tidak mau lagi baca buku, tak mau lagi ikut seminar. Padahal, seharusnya sertifikasi itu bisa menjadi cambuk agar lebih giat dalam memperbaiki diri, meningkatkan pengetahuan, ilmu dan kompetensi, katanya. Berdasarkan hasil riset, sambung Chairil, ternyata sertifikasi memang belum memberikan perubahan atau peningkatan yang signifikan dari aspek profesionalitas. Perubahan yang sudah pasti ada hanya berupa peningkatan pendapatan.
Chairil juga mengingatkan bahwa pemerintah akan terus melakukan evaluasi terhadap program sertifikasi. Bukan tidak mungkin suatu saat tunjangan profesi akan dihentikan jika sertifikasi yang diberikan dianggap betul-betul tidak meningkatkan kualitas secara signifikan.(rnl) Sumber: pontianakpost.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris