7 dari 10 Pelajar di Asia Alami Kekerasan di Sekolah, Termasuk Indonesia

9 Maret 2015 Berita Pendidikan


Sekolah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu yang menyenangkan bagi anak - anak. Namun belakangan ini banyak anak menjadi pelampiasan emosi sang guru hingga terjadi kekerasan. Organisasi nonprofit Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) melakukanpenelitian dari 5 negara di Asia, yaitu Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Vietnam, danIndonesia. Dari penelitian tersebut terungkap, 7 dari 10 anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Dari hasil penelitian, Indonesia menduduki tingkat tertinggi terkait kejadian kekerasan di sekolah. 84% pelajar di Indonesia pernah mengalami kekerasan, sedangkan Pakistan memiliki angka terendah, yakni 43%.

"Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan bekualitas, terbebas dari kekerasan dan ancaman kekerasan. Plan berkomitmen bekerja bersama para guru, pemerintah, orang tua dan pelajar agar rekomendasi laporan tersebut bisa terlaksana, serta mulai memastikan agar setiap orang tahu bahwa tak ada tempat bagi kekerasan di lingkungan sekolah, rumah, atau di manapun di mana anak-anak berada" kata Mark Pierce, Direktur Regional Asia, Plan International.

Tragisnya, 51% siswa di Indonesia mengaku pernah menyaksikan tindakan kekerasan di sekolah. Sedangkan di Pakistan hanya 5%. Hanya 30% siswa di Asia menjadi saksi kekerasan yang melaporkan aksi kekerasan atau berupaya menghentikannya.

Hal ini dikarenakan mengingat pelaku kekerasan adalah guru atau staf non-guru dan sesama pelajar di sekolah yang sama, korban kekerasan biasanya memilih untuk diam dan tidak mengadukan persoalannya.

Selain itu, budaya dan tradisi lokal juga berpengaruh besar. Dari semua negara yang disurvei, diketahui bahwa anak ditempatkan di struktur kekuasaan terbawah di masyarakat. Sehingga hukuman fisik nan keras terhadap anak dipandang sebagai langkah jitu mendisiplinkan anak.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)