Berita Pendidikan
4 Maret 2011

44 Persen Jajanan Anak Sekolah Tak Sehat

JAKARTA - Kini saatnya orangtua lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya selama di sekolah. Karena, hasil pemantauan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam lima tahun terakhir (2006-2010) menunjukkan, lebih dari 40 persen jajanan anak di sekolah tak memenuhi syarat kesehatan.

"Padahal, jajanan anak yang tak sehat itu menimbulkan risiko bagi kesehatan anak dan berdampak negatif terhadap pembentukan generasi bangsa di masa depan," kata Menko Kesra HR Agung Laksono di Jakarta, Rabu (2/3).

Agung menegaskan hal tersebut usai penandatanganan naskah kerja sama (memorandum of understanding) antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, Kementerian UKM dan Koperasi, serta Badan POM. Kerja sama ini untuk membangun kemitraan lintas sektor di bidang pembinaan dan pengawasan pangan jajanan anak sekolah (PJAS), pangan, obat tradisional dan kosmetika.

Kerja sama ini sejalan dengan Gerakan Menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu dan Bergizi yang dicanangkan Wapres Boediono pada 31 Januari 2011.

Perwujudan kerja sama itu nantinya dilakukan melalui promosi keamanan pangan, komunikasi, penyebaran informasi dan edukasi bagi komunitas sekolah, termasuk guru, murid, orangtua murid, pengelola kantin sekolah, dan penjaja PJAS.

Hadir dalam kesempatan ini Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, Kepala BPOM Kustantinah, serta Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kemenkop Neddy Rafinaldy Halim.

Kepala BPOM Kustantinah memaparkan hasil pemantauan BPOM bersama Kementerian Pendidikan Nasional dan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2009 terhadap kantin di lebih dari 170.000 sekolah. Ditemukan sebagian besar kantin sekolah menyajikan jajanan anak yang tidak sehat.

Hasil pantauan BPOM pada Januari-April 2010 di 128 sekolah dasar (SD) di Jakarta pun menampilkan hal serupa. Sebanyak 21 persen kantin di sekolah itu bukan saja menjual makanan yang tak sehat, melainkan juga mengandung bahan berbahaya.

Untuk jajanan anak di sekolah, zat kimia berbahaya yang paling sering ditemukan adalah zat pewarna rhodamin B dan metanil yellow. Kedua bahan itu sebenarnya adalah bahan kimia yang biasanya dipakai untuk industri tekstil dan plastik.

Untuk makanan, rhodamin B dan metanil yellow sering kali dipakai untuk mewarnai kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirop, biskuit, tahu, sosis, es doger, cendol, atau manisan buah. Makanan yang diberi zat pewarna ini biasanya berwarna lebih mencolok dan memiliki rasa agak pahit.

Zat-zat pewarna yang dipakai dalam makanan itu, kata Kustantinah, baru bisa diolah oleh enzim tubuh setelah seminggu. "Bayangkan jika setiap hari dikonsumsi oleh anak, yang kemudian terakumulasi selama bertahun-tahun dan dapat memicu penyakit kanker," ujarnya.

Selain bahan tambahan pangan, orangtua sebaiknya juga mewaspadai bahaya lain dalam makanan, misalnya produk kedaluwarsa, makanan yang dimasak terlalu gosong, atau menggoreng dengan pemanasan minyak suhu tinggi dan dipakai berulang kali. Cara menggoreng dengan memakai minyak goreng yang sama secara berulang kali bisa menimbulkan radikal bebas dalam tubuh.

Menurut Kustantinah, pemerintah sebenarnya memperbolehkan penggunaan bahan tambahan makanan, termasuk pengawet. Hal ini sesuai peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988. Ada 16 jenis pengawet yang diperbolehkan, antara lain MSG (monosodium glutamate) dan pemanis buatan.

Jajanan mendapat perhatian serius, lanjut Kustantinah, karena hasil survei BPOM pada 2008 menunjukkan bahwa jajanan anak memegang peranan penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak-anak usia sekolah.

Hal senada dikemukakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari. Dalam kesempatan yang sama, Linda meminta semua pihak, termasuk orangtua, untuk ikut mengawasi jajanan anak sekolah.

Menurut Linda, saat ini pengawasan terhadap jajanan anak sekolah belum dilakukan dengan optimal, sehingga anak mengonsumsi jajanan yang tidak sehat.

Sumber: suarakarya-online.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris