40 Bus Sekolah Dioperasikan di Jakarta

10 Maret 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Dinas Perhubungan DKI Jakarta kembali mengoperasikan 40 bus sekolah. Penambahan rute pun dilakukan untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada anak-anak sekolah yang hendak pulang dari atau menuju sekolahnya masing-masing.

Pengoperasian bus sekolah tersebut dimulai sejak Senin (7/3/2011). Siswa yang hendak menaiki bus ini tidak dikenakan pungutan biaya alias gratis. Demikian disampaikan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, Kamis (11/3/2011), di Gedung Balaikota, Jakarta.

"Jelas, untuk anak-anak sekolah, bus ini gratis. Bus berwarna kuning ini juga bisa menampung 40 orang," kata Pristono.

Adapun pengoperasian bus sekolah hanya dilakukan di jam-jam tertentu yang diyakini banyak anak sekolah, yakni pukul 05.00-06.30, 11.00-14.00, dan 16.00-18.30. Sebanyak 40 bus tersebut tersebar untuk melayani empat rute utama. Rute 1 melayani Lapangan Banteng-Kemayoran dan Kemayoran-Plumpang. Jumlah bus dirute ini sebanyak 6 bus, masing-masing 2 bus dan 4 bus. Rute 2 melayani Tanjung Priok-Pulo Gadung (4 bus) dan Pulo Gadung-Pondok Kopi (4 bus).

Sementara itu, rute 3 melayani Kampung Melayu-Cililitan (4 bus), Cililitan-TMII (4 bus), rute 4 melayani Tendean-Pasar Minggu (4 bus), Pasar Minggu-Lenteng Agung (4 bus). Selain empat rute utama, bus sekolah ini juga melayani rute penghubung seperti rute penghubung 1 melalui Pancoran-Pasar Minggu (4 bus) dan rute penghubung 2 melalui Cawang-Plumpang (4 bus).

Ditanyakan soal efektivitas bus sekolah lantaran tidak laku di kalangan anak sekolah, Pristono mengaku sadar akan kondisi tersebut. Oleh karena itu, Dishub DKI saat ini tengah mempersiapkan paket kerja sama edukasi di dalam bus sekolah bersama dengan LSM ataupun sebagai bentuk kerja sama tanggung jawab perusahaan swasta.

"Kami sedang mengusahakan untuk melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah agar mau memanfaatkan fasilitas ini. Juga ke swasta dan LSM agar bisa melakukan aktivitas edukasi yang menarik selama di bus," katanya.

Tak terawat

Sebelumnya, kondisi bus sekolah di Jakarta memang tampak kurang diminati anak-anak sekolah. Selain karena terbatasnya rute yang dilayani, bus sekolah juga sering tak tampak di jam yang seharusnya beroperasi.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sempat menyatakan, kondisi bus sekolah yang telantar disebabkan perilaku organisasi yang tidak antisipatif, termasuk dalam upaya merawat bus sekolah yang ada. Terlebih lagi, kata Foke, jika pihak ketiga sudah habis masa kontraknya, sedangkan untuk pengadaan operator baru harus menunggu APBD tahun bersangkutan.

Bus sekolah ini mulai tak terurus sejak awal 2008. Kala itu, operator bus sekolah ini telah habis masa kontraknya pada Desember 2007. Dishub sempat meminta agar operator tersebut memperpanjang masa kontrak hingga diperoleh operator baru, namun tidak ada hasilnya. Begitu pula saat lelang baru kembali digelar pada pertengahan 2008. Hingga awal 2011 ini, Dishub memastikan sudah ada operator baru yang mengoperasikan bus sekolah. Operator ini sama dengan operator untuk bus transjakarta koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) dan koridor X (Cililitan-Tanjung Priok).

Sumber: kompas.com