Berita Pendidikan
4 Agustus 2010

13 Juta Anak Terancam Putus Sekolah

JAKARTA - Jumlah anak Indonesia yang terancam putus sekolah saat ini mencapai 13 juta yang terdiri dari usia tujuh sampai 15 tahun.

"Berdasarkan data BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010, siswa tingkat sekolah dasar(SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP) banyak yang terancam putus sekolah dan ini sangat ironis di tengah kebijakan pemerintah wajib belajar 9 tahun," kata Direktur Program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) Janny Kiroyan kepada pers, di Jakarta, Selasa (3/8).

Ditemui dalam peluncuran program "Berbagi untuk Maju" yang diselenggarakan oleh PT Frisian Flag Indonesia dan Matahari Food Business, Janny mengatakan, dengan jumlah anak yang terancam putus sekolah sangat tinggi, maka GNOTA berharap agar lembaga swadaya masyarakat(LSM) yang ada di Indonesia ikut peduli terhadap permasalahan anak Indonesia, khususnya yang tidak mampu.

Menurut Janny, GNOTA mulai dari tahun 1996 sampai 2010 telah membantu 2,3 juta anak Indonesia yang tidak mampu bersekolah.
"Masyarakat harus berperan membantu anak-anak yang tidak mampu seperti melakukan aksi sosial dengan membuat garage sale," kata Janny.

Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta(UNJ) Dr Karnadi dalam kesempatan yang sama mengatakan, jumlah anak yang mengalami putus sekolah merupakan tolak ukur dari maju atau tidaknya sebuah negara.

"Setiap sekolah harus memberikan kemampuan khusus bagi anak seperti ilmu enterpreneur agar ketika ada yang sudah tidak bersekolah mampu untuk hidup mandiri," kata Karnadi.

Karnadi yang juga Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ mengungkapkan, bantuan yang telah diberikan pemerintah maupun dari masyarakat selama ini kepada sekolah maupun anak yang tidak mampu harusnya menjadi pembelajaran bagi para orang tua tentang pentingnya memperoleh pendidikan formal.

Menurut Karnadi, para pengajar seperti guru dan dosen juga harus memiliki kemampuan yang luas dan kreatif dalam memberikan materi pelajaran kepada murid.

"Setiap guru harus menggunakan model mengajar yang menarik seperti membawa anak keluar kelas," ungkap Karnadi.

Karnadi juga mengatakan, ada empat kunci utama keberhasilan pendidikan sebuah negara yaitu, orientasi, konten, strategi, dan legitimasi.

Kata Karnadi, orientasi menekankan pada membentuk warga negara yang cerdas, merdeka, dan sejahtera sedangkan konten lebih kepada mata pelajaran atau kurikulum yang simpel dan efektif.

Selanjutnya kata Karnadi, aspek strategi dan legitimasi adalah bagaimana pemerintah melakukan reformasi dalam sistem mengajar disekolah sehingga meningkatkan kualitas pendidikan.

"Berdasarkan data Human Development Index(HDI) tahun 2009 Indonesia menempati urutan ke 111 dari 180 negara," ungkap Karnadi.

Human Development Index (HDI) merupakan standar pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di dunia. (Ant/Ol-3)

Sumber: mediaindonesia.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris